Saham emiten kontroversial PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) berada dalam tekanan jual pada perdagangan di BEI, Kamis (18/11). Hingga penutupan perdagangan permintaan jual mencapai 144,172 juta saham dengan harga antara Rp1.290-1.610 per unit, sementara permintaan beli hanya 66,176 juta saham dengan harga Rp970-1.280 per saham.
Total volume transaksi KRAS Kamis (18/11) mencapai 101,166 juta saham, terendah sejak saham BUMN baja itu dicatatkan dan mulai diperdagangkan di BEI pada 10 November 2010.
Selama enam hari diperdagangkan di BEI, volume tertinggi KRAS terjadi pada 11 November sebesar 1,826 miliar saham. Pada hari yang sama KRAS mencapai harga tertinggi Rp1.520 per unit, 78,8% di atas harga penawaran perdana kepada publik Rp850 pe saham.
Pada perdagangan di BEI Kamis (18/11) ini, KRAS ditransaksikan pada kisaran harga Rp1.270-1.300 dan ditutup pada Rp1.280 per saham. Prime Capital Securities menjadi anggota BEI yang jual paling banyak KRAS hari ini, yaitu 25,215 juta saham dengan harga rata-rata Rp919 per unit. Pada hari yang sama Prime mengeksekusi order beli 21,775 juta saham KRAS dengan harga rata-rata 862,18 per saham.
Pada periode 10-18 November 2010, total volume transaksi saham Krakatau Steel mencapai 4.764.827.710 saham. Philip Securities Indonesia mencatat tranksaksi terbesar pada periode itu, masing-masing jual 253.266.500 saham dan beli 318.726.000 saham. (ba)
Peristiwa datang silih berganti. Ada yang lewat begitu saja, tetapi ada pula yang mengusik pikiran. Artikel-artikel di sini adalah sikap saya terhadap berbagai peristiwa dan kejadian tersebut
Tampilkan postingan dengan label Sketsa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sketsa. Tampilkan semua postingan
Kamis, 18 November 2010
Kamis, 13 Agustus 2009
Santun Budiman Punya Usul: Polisi Jadi Klien Termehek-mehek!
Walau bertetangga, sudah cukup lama saya tidak bertemu Santun Budiman. Saya ingat, pertemuan terakhir dengannya sebelum masa kampanye pemilihan umum presiden. Petang itu dia ke rumah dan mengajak saya menjadi relawan tim sukses salah satu pasangan capres-wapres. Dengan basa-basi full saya menolak tawarannya.
Pagi ini Santun ke rumah saya. "Saya habis menenangkan diri setelah jagoan kami kalah," jawabnya ketika saya tanya kemana saja sebulan terakhir ini. Hari ini, seperti biasanya, dia cukup gusar dengan fakta bahwa yang tertembak mati di Temanggung, Jawa Tengah, bukan Nurdin Moh Top, tetapi Ibrohim.
"Kok bisa-bisanya ya polisi keliru?" katanya.
"Ya bisalah. Polisi juga kan manusia," kataku setengah mengutip lirik sebuah lagu rock.
"Iya, saya tahu itu. Polisi memang manusia juga. Tetapi kan mereka sudah bertahun-tahun mengejar Nurdin, masak iya tidak bisa bedakan wajah Nurdin dengan wajah Boim?"
"Mungkin karena sama-sama suka ngebom, lama-lama wajahnya mirip," kataku sekenanya untuk melihat reaksi Santun.
"Ah, ngaco kamu. Ini masalah serius!" tukas Santun.
"Tetapi pertanyaanmu itu memang saya tidak bisa jawab. Mending kamu tanya ke beberapa orang yang mengaku sebagai pengamat teroris dan sering cuap-cuap di TV itu, mungkin mereka bisa jawab. Atau tanya langsung ke polisi," kataku.
Saya tahu Santun sebenarnya tidak memerlukan jawaban saya. Seperti biasa dia hanya ingin membagi beban berat keluh-kesahnya. Saya sendiri, sebenarnya setelah melihat tayangan langsung “penyerbuan” rumah Muhjahri itu punya banyak keluh-kesah dan pertanyaan. Karena tidak tahu siapa bisa menjawabnya, maka ya saya pendam dalam hati saja.
“Sebenarnya kamu juga punya banyak pertanyaan kan?” kata Santun. Dia rupanya sudah bisa membaca pikiran pula setelah menenangkan diri beberapa waktu, entah di mana.
Saya mengangguk!
“Sudah kuduga itu dari tadi,” katanya. “Karena susah mencari orang yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan kita, ya sudah, kita berhenti bertanya,” tambah Santun.
“Setuju!”
“Akan tetapi mengajukan usul, boleh kan?” tanya Santun.
“Ya boleh-boleh saja, tetapi saya tak harus setuju kan?”
Santun tersenyum. Bola matanya berbinar dan seolah mengembang. Sekian tahun berteman dan bertetangga saya paham, itu tanda jika dia merasa menemukan ide brilian.
“Saya mau usul agar polisi jadi klien Termehek-mehek* untuk menemukan Nurdin Moh Top. Selama ini saya lihat di TV, tim itu belum pernah gagal mempertemukan klien dengan targetnya."
"Bercanda kamu!" kataku. "Klien Termehek-mehek itu sebagian besar ingin numpang populer dengan cara mudah sehingga dengan senang hati mau berbagi informasi. Sementara Nurdin bersembuyi dan disembunyikan habis-habisan oleh pengikutnya, mana ada yang mau ngasih info."
Santun tersenyum. "Saya memang bercanda," kata Santun. "Tetapi saya sangat gemas dan geram, kok hingga sekarang Nurdin belum tertembak juga, sementara korbannya terus berjatuhan. Selain korban bom, bayangkan, pengebom bunuh diri yang dari Bogor itu baru 18 tahun! Kok bukan Nurdin sendiri sih yang bawa bomnya jika dia yakin itu memang jihad?"
"Lagi-lagi bertanya? Dari tadi kan saya sudah bilang, saya tidak dapat menjawab pertanyaanmu."
Saya dan Santun terdiam!
Catatan kaki:
*Jika belum tahu, Termehek-mehek adalah reality show yang ditayangkan di sebuah stasiun TV. Tugas host acara itu mencari mencari orang-orang (target) yang sudah lama hilang kontak dengan kliennya (orang yang minta jasa pencarian.
Pagi ini Santun ke rumah saya. "Saya habis menenangkan diri setelah jagoan kami kalah," jawabnya ketika saya tanya kemana saja sebulan terakhir ini. Hari ini, seperti biasanya, dia cukup gusar dengan fakta bahwa yang tertembak mati di Temanggung, Jawa Tengah, bukan Nurdin Moh Top, tetapi Ibrohim.
"Kok bisa-bisanya ya polisi keliru?" katanya.
"Ya bisalah. Polisi juga kan manusia," kataku setengah mengutip lirik sebuah lagu rock.
"Iya, saya tahu itu. Polisi memang manusia juga. Tetapi kan mereka sudah bertahun-tahun mengejar Nurdin, masak iya tidak bisa bedakan wajah Nurdin dengan wajah Boim?"
"Mungkin karena sama-sama suka ngebom, lama-lama wajahnya mirip," kataku sekenanya untuk melihat reaksi Santun.
"Ah, ngaco kamu. Ini masalah serius!" tukas Santun.
"Tetapi pertanyaanmu itu memang saya tidak bisa jawab. Mending kamu tanya ke beberapa orang yang mengaku sebagai pengamat teroris dan sering cuap-cuap di TV itu, mungkin mereka bisa jawab. Atau tanya langsung ke polisi," kataku.
Saya tahu Santun sebenarnya tidak memerlukan jawaban saya. Seperti biasa dia hanya ingin membagi beban berat keluh-kesahnya. Saya sendiri, sebenarnya setelah melihat tayangan langsung “penyerbuan” rumah Muhjahri itu punya banyak keluh-kesah dan pertanyaan. Karena tidak tahu siapa bisa menjawabnya, maka ya saya pendam dalam hati saja.
“Sebenarnya kamu juga punya banyak pertanyaan kan?” kata Santun. Dia rupanya sudah bisa membaca pikiran pula setelah menenangkan diri beberapa waktu, entah di mana.
Saya mengangguk!
“Sudah kuduga itu dari tadi,” katanya. “Karena susah mencari orang yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan kita, ya sudah, kita berhenti bertanya,” tambah Santun.
“Setuju!”
“Akan tetapi mengajukan usul, boleh kan?” tanya Santun.
“Ya boleh-boleh saja, tetapi saya tak harus setuju kan?”
Santun tersenyum. Bola matanya berbinar dan seolah mengembang. Sekian tahun berteman dan bertetangga saya paham, itu tanda jika dia merasa menemukan ide brilian.
“Saya mau usul agar polisi jadi klien Termehek-mehek* untuk menemukan Nurdin Moh Top. Selama ini saya lihat di TV, tim itu belum pernah gagal mempertemukan klien dengan targetnya."
"Bercanda kamu!" kataku. "Klien Termehek-mehek itu sebagian besar ingin numpang populer dengan cara mudah sehingga dengan senang hati mau berbagi informasi. Sementara Nurdin bersembuyi dan disembunyikan habis-habisan oleh pengikutnya, mana ada yang mau ngasih info."
Santun tersenyum. "Saya memang bercanda," kata Santun. "Tetapi saya sangat gemas dan geram, kok hingga sekarang Nurdin belum tertembak juga, sementara korbannya terus berjatuhan. Selain korban bom, bayangkan, pengebom bunuh diri yang dari Bogor itu baru 18 tahun! Kok bukan Nurdin sendiri sih yang bawa bomnya jika dia yakin itu memang jihad?"
"Lagi-lagi bertanya? Dari tadi kan saya sudah bilang, saya tidak dapat menjawab pertanyaanmu."
Saya dan Santun terdiam!
Catatan kaki:
*Jika belum tahu, Termehek-mehek adalah reality show yang ditayangkan di sebuah stasiun TV. Tugas host acara itu mencari mencari orang-orang (target) yang sudah lama hilang kontak dengan kliennya (orang yang minta jasa pencarian.
Rabu, 18 Februari 2009
Mental Majikan Sebagian Anggota DPR

“Memang anggota DPR itu siapa?” Santun Budiman menyergap saya sebelum sempat bersalaman. Setelah beberapa waktu tidak jumpa dengan alasan ke Gaza mengantar sumbangan, saya bersua lagi dengan Santun di pos satpam (kalau-kalau lupa, kepanjangannya satuan pengamanan) di jalan masuk utama perumahan kami. “Memang siapa mereka?”
“Salaman dulu,” kataku sembari meraih tangan Santun. “Ada apa sebenarnya kok tiba-tiba mengajukan pertanyaan seperti itu?”
“Sampean tidak baca berita kemarin?” dia mengajukan pertanyaan dengan dialek jawatimuran karena dia tahun istri saya dari Kediri. “Sejumlah anggota DPR marah-marah kepada Direksi Pertamina karena dikirimi surat protes,” kata Santun. Berita yang dia maksud benar-benar luput dari saya. “Memang siapa mereka?” Santun mengulang lagi pertanyaannya.
“Santun, maaf, saya benar-benar belum membaca berita itu,” saya berusaha menenangkannya. Satpam yang berjaga di pos yang sedari tadi pura-pura tidak mendengar dialog itu melirik ke arah saya. Ada guratan senyum maklum di wajahnya.
Dan Santun tampaknya maklum. Sekali-kali melewatkan berita politik, apalagi hanya anggota DPR yang marah-marah adalah wajar walau hal itu bisa memicu kegusaran Santun. “Tidak produktif,” kata Santun. Akibatnya, kata Santun lagi, “Rapat kerja lanjutan direksi baru Pertamina dengan Komisi VII DPR dihentikan. Padahal, untuk memenuhi undangan rapat kerja dengan DPR itu, kan direksi tersebut terpaksa meninggalkan pekerjaannya yang jauh lebih penting kan? Benar-benar keterlaluan anggota DPR itu. Memang siapa mereka?”
Saya, sekali lagi, tidak menjawab pertanyaan Santun. Saya tidak mengerti duduk soalnya.
Hari ini, saya tiba di kantor sangat pagi, pukul 07.00. Saya sempatkan mencari berita yang dimaksud Santun. Akhirnya, saya tahu bahwa rapat dengar pendapat dihentikan karena PT Pertamina mengirimkan surat protes ke Komisi VII DPR. Pertamina, kata berita itu, kecewa karena dalam rapat dengar pendapat pada 10 Februari 2009 anggota DPR banyak menyampaikan pertanyaan yang seperti mengadili jajaran direksi baru BUMN tersebut.
Jadi, ini toh pangkal soalnya? Rupanya, para anggota DPR ”terhormat” itu tersinggung karena dikirimi surat protes. ”Ini sangat menyinggung DPR. Anggota berhak menanyakan apa saja, ini sama dengan mengintervensi DPR,” kata Sony Keraf, anggota Komisi VII dari Fraksi PDI-P. Bahkan, anggota DPR dari Fraksi PAN Alvin Lie menilai, surat protes Pertamina itu sebagai luar biasa. ”Menteri saja tidak pernah membuat surat seperti ini,” kata Alvin (Kompas, 17 Februari 2009).
Anggota DPR? Anggota DPR? Diprotes kok tersinggung? Orang-orang datang menghadiri rapat dengar pendapat karena diundang datang oleh DPR. Mereka adalah tamu Anda. Jika DPR mau dihormati, ya hormatilah tamu-tamu itu. Ingat, anggota DPR itu wakil rakyat, bukan majikan rakyat. Dan yang datang itu karena Anda undang adalah rakyat yang kebetulan menjabat sebagai Direksi Pertamina. ”Berhentilah berprilaku sebagai majikan.”
Yang terakhir itu bukan pernyataan Santun, tetapi pernyataan saya sendiri!
Selasa, 13 Januari 2009
Politik Silaturahmi
Santun Budiman, teman saya, tiba-tiba sudah menyapa ketika saya hendak membuka kunci pagar rumah sepulang shalat Subuh berjemaah. “Saya butuh pendapatmu, kawan,” katanya. Ini pasti sesuatu yang sangat penting, kataku dalam hati. Bangun pagi-pagi buta bukan suatu yang mudah buat Santun yang terbiasa tidur setelah film ke-2 di Trans TV berakhir. Saya juga menduga ini sesuatu yang menyenangkan sebab Santun menambahkan kawan di belakang kalimatnya.
Tanpa saya silakan Santun ikut masuk. “Saya ingin menulis buku. Tema besarnya, politik adalah silaturahmi,” kata Santun setelah duduk di kursi plastik di teras rumah. ”Bagaimana menurutmu ide itu?”
Terus terang saya tidak terlalu mengerti politik. Tetapi Santun beranggapan sebaliknya. Penyebabnya hanya satu, dia merasa selalu bisa ”nyambung” dengan saya jika dia bicara politik, terutama ”isyu-isyu terbaru di dunia politik.” Padahal, apa yang saya kemukakan itu sebagian besar saya baca dari koran yang biaya langganannya ditanggung oleh kantorku. Selain itu, sekarang kan hampir semua koran punya versi web dan GRATIS.
”Bagaimana menurutmu ide itu?” Santun mengulangi pertanyaannya.
”Bagaimana ya?” kataku. ”Bagaimana kok ide itu bisa muncul?” Biasa kan kalau bingung menjawab pertanyaan, ya ajukan lagi pertanyaan.
”Simple, kawan!” Santun mengeluarkan HP-nya lalu menunjukkan sebuah SMS dari kawannya yang kebetulan saya kenal juga.”SMS ini memicu ide itu.” Saya makin blank!
”Tahu nggak, saya sudah enam belas tahun tidak pernah bertemu X (nama sebenarnya sengaja disamarkan),” cerita Santun. ”Selama ini kami hanya saling ber-SMS, paling tidak sekali setahun, pada waktu lebaran, tetapi SMS-an yang terakhir ya empat tahun silam.”
”Sekitar delapan bulan lalu,” Santun meneruskan ceritanya, ”Saya menelepon X di HP tetapi tidak pernah diangkat. Saya SMS tidak pernah dibalas. Saya telepon ke kantornya, dia tidak pernah ada di tempat. Saya tinggalkan pesan melalui sekretarisnya, dia juga tidak pernah membalas. Buat saya X hilang ditelan bumi, tidak bisa dihubungi, padahal saya mengontaknya karena hendak minta sumbangan untuk renovasi mesjid di kampung saya.”
Dari Santun dan beberapa teman lainnya, saya dapat kabar X memang sudah makmur. X menjadi pengusaha. Bisnisnya memasok keperluan beberapa departemen dan kantor pemerintah. Saya bisa maklumi jika Santun hendak meminta sumbangan kepadanya, apalagi itu untuk investasi akhirat.
“Kawan tahu? Sabtu minggu lalu X tiba-tiba ngirim SMS ke saya,” kata Santun menyodorkan HP-nya. “Lihat itu!”
Saya lalu membuka SMS tersebut. SMS-nya panjang, lebih dari 600 bite. Isinya, profil singkat X, di mana dan kapan dilahirkan, pendidikan terakhir, status pernikahan, pekerjaan, posisi di sebuah di sebuah partai politik serta nomor urut calon DPR-RI dan di daerah pemilihan mana X dicalonkan. Singkatnya, X mohon doa restu dan dukungan dari Santun dan keluarganya agar pada hari pemilihan umum memilihnya.
“Lalu?” kataku, “Apa hubungan SMS ini dengan ide bukumu, Politik adalah Silaturahmi?”
”Jelas dong! X hendak terjun ke dunia politik. Dia ingin menjadi anggota DPR-RI yang terhormat. Dia berusaha dan lalu kenal petinggi partai itu. Akhirnya dia menjadi calon anggota DPR-RI dari daerah pemilihan Y. Agar terpilih X mulai minta dukungan, dia mulai menjalin ”kembali” tali silaturahim dengan orang-orang dia anggap bisa memilihnya atau bisa mengerahkan orang lain untuk memilihnya. Saya yakin, SMS seperti ini tidak hanya dikirim ke saya.”
“Jadi, politik itu silaturahmi, kawan!” ujar Santun dengan mata berbinar seolah menemukan sebuah teori besar. “Silaturahmi inilah yang dilakukan oleh Obama hingga bisa mengalahkan John McCain. Bedanya, Obama menjalin dan membangun silaturahmi dengan pendukungnya dan orang-orang yang diperkirakan dapat mendukungnya jauh sebelum mencalonkan diri menjadi presiden AS. Dia mulai dari lingkungan tempat tinggalnya. Sementara teman saya ini, X, mau menjalin silaturahmi setelah merasa benar-benar butuh dukungan.”
Saya mulai menangkap ide Politik adalah Silaturahmi. Tetapi tetap saya belum bisa memberikan opini atas ide tersebut. Sebelum Santun menanyakan kembali hal itu, saya dahului dia dengan pertanyaan, “BTW (kayak SMS saja), kau akan memilih X?”
“Tidak!” Santun menjawab cepat.
“Mengapa?”
“Saya kan tidak tinggal di daerah pemilihan X.”
Tanpa saya silakan Santun ikut masuk. “Saya ingin menulis buku. Tema besarnya, politik adalah silaturahmi,” kata Santun setelah duduk di kursi plastik di teras rumah. ”Bagaimana menurutmu ide itu?”
Terus terang saya tidak terlalu mengerti politik. Tetapi Santun beranggapan sebaliknya. Penyebabnya hanya satu, dia merasa selalu bisa ”nyambung” dengan saya jika dia bicara politik, terutama ”isyu-isyu terbaru di dunia politik.” Padahal, apa yang saya kemukakan itu sebagian besar saya baca dari koran yang biaya langganannya ditanggung oleh kantorku. Selain itu, sekarang kan hampir semua koran punya versi web dan GRATIS.
”Bagaimana menurutmu ide itu?” Santun mengulangi pertanyaannya.
”Bagaimana ya?” kataku. ”Bagaimana kok ide itu bisa muncul?” Biasa kan kalau bingung menjawab pertanyaan, ya ajukan lagi pertanyaan.
”Simple, kawan!” Santun mengeluarkan HP-nya lalu menunjukkan sebuah SMS dari kawannya yang kebetulan saya kenal juga.”SMS ini memicu ide itu.” Saya makin blank!
”Tahu nggak, saya sudah enam belas tahun tidak pernah bertemu X (nama sebenarnya sengaja disamarkan),” cerita Santun. ”Selama ini kami hanya saling ber-SMS, paling tidak sekali setahun, pada waktu lebaran, tetapi SMS-an yang terakhir ya empat tahun silam.”
”Sekitar delapan bulan lalu,” Santun meneruskan ceritanya, ”Saya menelepon X di HP tetapi tidak pernah diangkat. Saya SMS tidak pernah dibalas. Saya telepon ke kantornya, dia tidak pernah ada di tempat. Saya tinggalkan pesan melalui sekretarisnya, dia juga tidak pernah membalas. Buat saya X hilang ditelan bumi, tidak bisa dihubungi, padahal saya mengontaknya karena hendak minta sumbangan untuk renovasi mesjid di kampung saya.”
Dari Santun dan beberapa teman lainnya, saya dapat kabar X memang sudah makmur. X menjadi pengusaha. Bisnisnya memasok keperluan beberapa departemen dan kantor pemerintah. Saya bisa maklumi jika Santun hendak meminta sumbangan kepadanya, apalagi itu untuk investasi akhirat.
“Kawan tahu? Sabtu minggu lalu X tiba-tiba ngirim SMS ke saya,” kata Santun menyodorkan HP-nya. “Lihat itu!”
Saya lalu membuka SMS tersebut. SMS-nya panjang, lebih dari 600 bite. Isinya, profil singkat X, di mana dan kapan dilahirkan, pendidikan terakhir, status pernikahan, pekerjaan, posisi di sebuah di sebuah partai politik serta nomor urut calon DPR-RI dan di daerah pemilihan mana X dicalonkan. Singkatnya, X mohon doa restu dan dukungan dari Santun dan keluarganya agar pada hari pemilihan umum memilihnya.
“Lalu?” kataku, “Apa hubungan SMS ini dengan ide bukumu, Politik adalah Silaturahmi?”
”Jelas dong! X hendak terjun ke dunia politik. Dia ingin menjadi anggota DPR-RI yang terhormat. Dia berusaha dan lalu kenal petinggi partai itu. Akhirnya dia menjadi calon anggota DPR-RI dari daerah pemilihan Y. Agar terpilih X mulai minta dukungan, dia mulai menjalin ”kembali” tali silaturahim dengan orang-orang dia anggap bisa memilihnya atau bisa mengerahkan orang lain untuk memilihnya. Saya yakin, SMS seperti ini tidak hanya dikirim ke saya.”
“Jadi, politik itu silaturahmi, kawan!” ujar Santun dengan mata berbinar seolah menemukan sebuah teori besar. “Silaturahmi inilah yang dilakukan oleh Obama hingga bisa mengalahkan John McCain. Bedanya, Obama menjalin dan membangun silaturahmi dengan pendukungnya dan orang-orang yang diperkirakan dapat mendukungnya jauh sebelum mencalonkan diri menjadi presiden AS. Dia mulai dari lingkungan tempat tinggalnya. Sementara teman saya ini, X, mau menjalin silaturahmi setelah merasa benar-benar butuh dukungan.”
Saya mulai menangkap ide Politik adalah Silaturahmi. Tetapi tetap saya belum bisa memberikan opini atas ide tersebut. Sebelum Santun menanyakan kembali hal itu, saya dahului dia dengan pertanyaan, “BTW (kayak SMS saja), kau akan memilih X?”
“Tidak!” Santun menjawab cepat.
“Mengapa?”
“Saya kan tidak tinggal di daerah pemilihan X.”
Kamis, 08 Januari 2009
Masih Muda? Korupsilah!
Teman saya, Santun Budiman, bersilaturahim ke rumah kami kemarin. Ia membawa kliping koran Kompas, edisi Selasa, 6 Januari 2009. Setelah berbasa-basi menanyakan kabar kegiatan tahun baru 2009, ia menggelar kliping koran tersebut di atas meja plastik biru di teras rumah kami.
"Lihat ini. Baca yang sudah saya warnai kuning," kata Santun. Sangat jelas nada gusar pada suaranya.
Saya pun mengambil kliping tersebut tetapi hanya melirik judulnya: ”Dihukum 8 Tahun, Al Amien Banding.”
”Baguskan? Masih dapat delapan tahun," kataku. "Daripada bebas seperti Muchdi PR?"
"Poin saya bukan vonisnya, bukan jumlah hukumannya. Coba baca yang saya tandai kuning itu," nada suara Santun mulai memerintah.
Saya menuruti perintahnya. Saya membaca dengan bersuara kalimat bertanda kuning itu. “Adapun hal yang meringankan adalah ia belum pernah dihukum, memiliki tanggungan keluarga, serta masih muda dan masih mungkin memperbaiki diri.”
Saya meletakkan kembali kliping tersebut. Saya lihat alis Santun terangkat. Kulit dahinya berkerut. Sebuah isyarat bahwa dia menanti komentar saya atas kalimat yang telah saya baca dengan bersuara tadi.
“Memang benar kan, Al Amien belum pernah dihukum, memiliki tanggungan keluarga (walau kini minta cerai), masih muda dan masih mungkin memperbaiki diri?” kataku mengulang kalimat dari kliping koran tersebut.
“Coba simak baik-baik kalimat itu,” kata Santun. Nadanya semakin tidak sabar.
“Masih muda sebagai alasan meringankan hukuman seorang koruptor adalah omong kosong,” Santun menggelegak. “Ini seolah-olah mengatakan, hei kalian, korupsilah, mumpung masih muda. Hukumanmu bisa lebih ringan. Apalagi dikatakan masih bisa meperbaiki diri. Ini sangat spekulatif. Bagaimana para hakim itu bisa tahu bahwa Al Amien akan memperbaiki diri dengan hanya dihukum delapan tahun penjara.”
“Lihat kalimat sebelumnya,” kata Santun lagi sembari mengibar-ngibarkan kliping tersebut. “Majelis hakim juga mempertimbangkan hal-hal memberatkan, yaitu perbuatan Al Amien menurunkan citra dan kredibilitas DPR, mengkhianati amanat rakyat dan pemerintah yang sedang gencar melaksanakan pemberantasan korupsi, dan tidak berterus terang serta berbelit-belit selama persidangan.”
Rupanya Santun mengikuti persidangan Al Amien selama ini. ”Dia tidak hanya berbelit-belit,” katanya, “Tetapi juga tidak pernah mengakui bahwa apa yang telah dilakukannya salah. Dia tidak pernah menyesali perbuatannya. Bagaimana orang seperti itu bisa memperbaiki diri.” Tampaknya Santun benar-benar marah.
”Mau bukti lain?” Santun tidak memberi peluang kepada saya. ”Dia langsung menyatakan naik banding. Itu berarti vonis yang 12 tahun lebih rendah dari tuntutan jaksa masih dianggap tidak pantas dijatuhkan kepadanya. Mengapa? Karena dia merasa dirinya tidak korupsi kan?”
Saya manggut-manggut untuk meredakan kegusaran Santun. ”Kamu mungkin benar, tetapi paling tidak Al Amien tidak punya lagi kesempatan mengulangi perbuatannya. Dia kan bukan lagi anggota DPR, paling tidak hingga delapan tahun mendatang.”
”Iya, itu kalau dia tidak dibebaskan di pengadilan yang lebih tinggi!”
"Lihat ini. Baca yang sudah saya warnai kuning," kata Santun. Sangat jelas nada gusar pada suaranya.
Saya pun mengambil kliping tersebut tetapi hanya melirik judulnya: ”Dihukum 8 Tahun, Al Amien Banding.”
”Baguskan? Masih dapat delapan tahun," kataku. "Daripada bebas seperti Muchdi PR?"
"Poin saya bukan vonisnya, bukan jumlah hukumannya. Coba baca yang saya tandai kuning itu," nada suara Santun mulai memerintah.
Saya menuruti perintahnya. Saya membaca dengan bersuara kalimat bertanda kuning itu. “Adapun hal yang meringankan adalah ia belum pernah dihukum, memiliki tanggungan keluarga, serta masih muda dan masih mungkin memperbaiki diri.”
Saya meletakkan kembali kliping tersebut. Saya lihat alis Santun terangkat. Kulit dahinya berkerut. Sebuah isyarat bahwa dia menanti komentar saya atas kalimat yang telah saya baca dengan bersuara tadi.
“Memang benar kan, Al Amien belum pernah dihukum, memiliki tanggungan keluarga (walau kini minta cerai), masih muda dan masih mungkin memperbaiki diri?” kataku mengulang kalimat dari kliping koran tersebut.
“Coba simak baik-baik kalimat itu,” kata Santun. Nadanya semakin tidak sabar.
“Masih muda sebagai alasan meringankan hukuman seorang koruptor adalah omong kosong,” Santun menggelegak. “Ini seolah-olah mengatakan, hei kalian, korupsilah, mumpung masih muda. Hukumanmu bisa lebih ringan. Apalagi dikatakan masih bisa meperbaiki diri. Ini sangat spekulatif. Bagaimana para hakim itu bisa tahu bahwa Al Amien akan memperbaiki diri dengan hanya dihukum delapan tahun penjara.”
“Lihat kalimat sebelumnya,” kata Santun lagi sembari mengibar-ngibarkan kliping tersebut. “Majelis hakim juga mempertimbangkan hal-hal memberatkan, yaitu perbuatan Al Amien menurunkan citra dan kredibilitas DPR, mengkhianati amanat rakyat dan pemerintah yang sedang gencar melaksanakan pemberantasan korupsi, dan tidak berterus terang serta berbelit-belit selama persidangan.”
Rupanya Santun mengikuti persidangan Al Amien selama ini. ”Dia tidak hanya berbelit-belit,” katanya, “Tetapi juga tidak pernah mengakui bahwa apa yang telah dilakukannya salah. Dia tidak pernah menyesali perbuatannya. Bagaimana orang seperti itu bisa memperbaiki diri.” Tampaknya Santun benar-benar marah.
”Mau bukti lain?” Santun tidak memberi peluang kepada saya. ”Dia langsung menyatakan naik banding. Itu berarti vonis yang 12 tahun lebih rendah dari tuntutan jaksa masih dianggap tidak pantas dijatuhkan kepadanya. Mengapa? Karena dia merasa dirinya tidak korupsi kan?”
Saya manggut-manggut untuk meredakan kegusaran Santun. ”Kamu mungkin benar, tetapi paling tidak Al Amien tidak punya lagi kesempatan mengulangi perbuatannya. Dia kan bukan lagi anggota DPR, paling tidak hingga delapan tahun mendatang.”
”Iya, itu kalau dia tidak dibebaskan di pengadilan yang lebih tinggi!”
Langganan:
Postingan (Atom)