Tampilkan postingan dengan label Emiten. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Emiten. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 Januari 2013

Grup Lippo Kembali ke Arena Perbankan?



Sejumlah konglomerat kehilangan bank ketika Indonesia dilanda krisis keuangan pada 1997-1998. BCA lepas dari Liem Sioe Liong (Grup Salim), Eka Tipta Wijaya (Grup Sinar Mas) terpaksa melepas Bank Internasional Indonesia Tbk (BNII) dan Mochtar Riyadi (Grup Lippo) kehilangan Bank Lipppo.

Bank-bank di atas hingga kini masih beroperasi, tetapi pemiliknya sudah berganti. BCA dikuasai oleh Grup Jarum melalui Farindo Investment. BII kini dimiliki oleh Sorak Financial Holding Pte Ltd (54,33%) dan Mayban Outshore Corporate Services (42,96%). Adapun Bank Lippo dimerjer dengan Bank Niaga dan menjadi Bank CIMB Niaga yang 77,24% sahamnya dimiliki oleh CIMB Group Sdn Bhd dan Santubong Ventures Sdn Bhd., Malaysia.

Akan tetapi krisis keuangan yang menyebabkan sejumlah konglomerat kehilangan bank,  tampaknya tak membuat jera. Grup Sinar Mas yang didirikan oleh Eka Tjipta Wijaya telah kembali ke arena perbankan. Pada 2005, melalui PT Sinarmas Multiartha Tbk, Sinar Mas mengambil-alih PT Bank Shinta Indonesia, lalu mengubah namanya menjadi Bank Sinarmas pada 2006.  Pada 2010 Bank Sinarmas melakukan penawaran umum perdana saham (PUPS) dengan harga Rp150 per saham.

Kehadiran kembali keluarga Eka Tjipta Wijaya di sektor perbankan di Indonesia menjadi paripurna dengan pencatatan dan perdagangan perdana saham Bank Sinarmas (BSIM) di Bursa Efek Indonesia pada 13 Desember 2010. Hari ini, Selasa (8/1),  harga BSIM  tercatat Rp225 per saham. Ini berarti nilai kapitalisasi pasar bank beraset Rp16,31 triliun per 30 September 2012 itu sebesar Rp2,31 triliun.

Grup Lippo tampaknya akan melakukan langkah serupa. Seperti disebut e-Bursa.com,  PT Bank Nationalnobu (Bank Nobu) akan melakukan PUPS sekitar 40% sahamnya tahun ini. Manajemen bank ini telah mengadakan paparan singkat di hadapan manajemen BEI untuk memperoleh kontrak pendahuluan.

Apa kaitan Grup Lippo dengan Bank Nobu? Sebesar 71,43% saham Bank Nobu dimiliki oleh PT Kharisma Buana Nusantara. Sisanya, 28,57%, dimiliki oleh Nio Yantony. Kharisma Buana Nusantara ternyata 99,99% sahamnya dikuasai oleh Mochtar Riady, pendiri Grup Lippo, bankir yang dulu membesarkan Bank BCA dan membangun Bank Lippo menjadi salah satu bank papan atas Indonesia.  Kharisma mengambil alih bank ini dari PT Gunawan Sejahtera pada Oktober 2010 dengan nilai akusisi Rp60,484 miliar.

Bank Nobu memang masih relatif kecil. Total asetnya per September 2012 masih Rp803,55 miliar, naik 140,7%  dari Rp333,832 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Adapun liabilitasnya naik dari Rp203,877 miliar menjadi Rp550,939 milar pada periode yang sama.

Per 30 September 2012, pendapatan bunga bersih Bank Nobu tercatat sebesar 14,849 miliar, meningkat 87,1% dari Rp7,936 miliar per September 2011. Adapun labanya,  tercatat Rp2,178 miliar, tumbuh 10,61% dibanding Rp1,969 miliar per 30 Semptember 2011. Dapatkah Bank Nobu menjadi salah satu (lagi) pembuktian kepiawaian Grup Lippo (dan keluarga Mochtar Riyadi) di arena perbankan Indonesia? Kita tunggu setelah Bank Nobu masuk bursa dan sahamnya mulai diperdagangkan di BEI. (ba)

Senin, 07 Januari 2013

Saham Centrin Online bagai Naik “Roller Coaster”



Harga saham PT Centrin Online Tbk (CENT) bagaikan naik roller coaster. Penyedia layanan Internet yang berkantor pusat di Bandung, Jawa Barat ini tercatat sebagai emiten dengan kenaikan harga saham tertinggi sepanjang 2012. Ditutup pada Rp1.210 per saham pada 27 Desember,  berarti sepanjang 2012 harga CENT meningkat 1.010,09%. Selama Desember 2012 Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan dua kali penghentian sementara (suspen) perdagangan saham CENT.

Akan tetapi selama tiga hari perdagangan pada Januari 2013 ini harga saham CENT turun drastis. Per 4 Januari CENT ditutup pada Rp810 per saham, anjlok 33,06% dari harga penutupan Rp1.210 per saham pada 2012. Ini menempatkan CENT sebagai emiten dengan penurunan harga saham terbesar minggu lalu. Pada waktu yuang sama Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) BEI mencetak rekor tertinggi baru, 4.410,020 poin, naik 2,16% dari 4.316,687 poin per 27 Desember 2012.

Penurunan harga CENT berlanjut pada perdagangan Senin, 7 Januari 2013. Hingga pukul 10:34 WIB, harga CENT tercatat Rp680 per saham, turun 16,05% dari harga penutupan Jumat (4/1) sebesar Rp810 per saham.

Peningkatan harga CENT periode November-Desember 2012 memang tak didukung oleh kinerja fundamental yang memadai. PerSeptember 2012, dengan aset Rp113,9 miliar, CENT membukukan pendapatan usaha Rp41,03 miliar, merosot sekitar 10% dari Rp45,71 miliar per September 2011.

Kontras dengan pendapatan, biaya usaha CENT, terutama beban umum dan administrasi, justru meningkat. Akibatnya, jika per September 2011 Centrin masih membukukan laba usaha Rp1,74 miliar, per September 2012 rugi usaha Rp4,53 miliar.

September 2011 sebenarnya Centrin sudah menderita kerugian bersih Rp735,15 juta. Akan tetapi sebagian besar kerugian itu karena ada kegiatan usaha yang dihentikan sebesar Rp1,99 miliar. Centrin masih membukukan laba sebelum pajak Rp1,17 miliar. Tahun ini, seperti tergambar di laporan keuangan per September 2012, Centrin menderita rugi bersih Rp2,29 miliar, meningkat kurang lebih 200% dari tahun sebelumnya. (ba)

Kamis, 20 Desember 2012

Centrin Online Ditransaksikan Lagi, Harga Sahamnya Melonjak!



Kamis (20/12) ini, sesuai janji Bursa Efek Indonesia (BEI), saham emiten penyedia layanan internet PT Centrin Online Tbk (CENT) kembali diperdagangkan. Sejak Jumat, 7 Desember 2012, CENT disuspen oleh BEI, setelah harga sahamnya melonjak 383,87%, dari Rp155 pada 21 November 2012 menjadi Rp750 per saham pada 6 Desember 2012.

Tanda-tanda harga sengaja dikerek setinggi-tingginya, seperti saya kemukakan sebelumnya, makin jelas setelah CENT kembali diperdagangkan Kamis (20/12) ini. Begitu perdagangan saham di BEI dibuka, harga CENT langsung melonjak 20% menjadi Rp930 per saham. CENT akhirnya tercatat sebagai top gainer sesi pertama perdagangan hari ini. Permintaan atas saham CENT masih cukup tinggi, tetapi penawaran sudah berhenti setelah mencapai Rp930.

Tampaknya, jika saham CENT tak disuspen lagi maka dalam beberapa hari mendatang harganya dengan cepat akan mencapai Rp1.200 per saham. Walau masih mencetak rugi per September 2012, permintaan atas saham CENT masih cukup besar. Pada perdagangan sesi ke-2 Kamis ini, permintaan atas CENT masih cukup besar.**

Kamis, 06 Desember 2012

Centrin ‘Digoreng’ untuk Back Door Listing?


Harga saham PT Centrin Online Tbk (CENT) benar-benar berkibar. Rabu (5/12), setelah suspensinya dibuka oleh BEI, CENT ditutup naik 23,71% menjadi Rp600 dari Rp485 per saham pada saat disuspen. Kamis (6/12) harga CENT langsung “ngebut” begitu perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) dimulai. Pada pukul 09:32 JATS, atau dua menit setelah perdagangan berlangsung, harga CENT sudah mencapai Rp750 per saham, naik 25% dari penutupan sehari sebelumnya.

Kenaikan 25% itu berarti CENT telah menyentuh aturan auto rejection BEI untuk saham dengan harga Rp200-5.000. Perdagangannya dihentikan pada pukul 09.48 waktu JATS. Pada periode 21 November-6 Desember 2012 harga CENT, secara kumulatif, telah meningkat 383,8%, dari Rp155 menjadi Rp750 per saham.

Kenaikan harga CENT sebesar 383,8% jelas tak didukung oleh kinerja fundamental. Akan tetapi, di BEI, hal itu tak hanya terjadi pada CENT. Hal serupa, misalnya, terjadi pada PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) dan PT ICTSI Jasa Prima Tbk (KARW). Harga saham kedua emiten yang bidang usaha utamanya telah berubah itu masing-masing naik 1.066,6% dan 534,5% pada periode 30 Desember 2011 hingga 30 November 2012. KARW bahkan belum membukukan pendapatan sepeser pun hingga Juni 2012.

Per September 2012, dengan aset Rp113,9 miliar, CENT hanya membukukan pendapatan usaha Rp41,03 miliar, turun sekitar 10% dari Rp45,71 miliar per September 2011. Kontras dengan pendapatan, biaya usaha CENT, terutama beban umum dan administrasi, justru meningkat. Akibatnya, jika per September 2011 emiten yang masuk bursa pada 1 Nopember 2011 itu masih membukukan laba usaha Rp1,74 miliar, per September 2012 rugi usaha Rp4,53 miliar.

Tahun ini, seperti tergambar di laporan keuangan per September 2012, Centrin yang sahamnya dicatatkan dan mulai diperdagangkan di BEI pada 1 November 2001 menderita rugi bersih Rp2,29 miliar, meningkat kurang lebih 200% dari Rp735,15 juta pada periode yang sama 2011.

Jadi, mengapa harga CENT naik pesat? Tentu saja bukan karena faktor fundamental. Sumber e-Bursa.com mengemukakan, ada rumor beredar Centrin akan dijadikan sarana ‘backdoor listing’ untuk sebuah perusahaan pertambangan. “Makanya harga sahamnya dibikin bagus dulu supaya setelah backdoor listing, harga saham pertambangan yang mengambil-alih CENT sudah tinggi,” katanya.

Sumber itu lebih lanjut mengemukakan, setelah bidang usaha berubah, langkah selanjutnya adalah menyelenggarakan penawaran umum terbatas (PUT) saham untuk membiayai investasi dan operasional pertambangan tersebut. Harga PUT-nya pun dapat ditetapkan lebih tinggi.

Tentu saja rumor seperti di atas tak akan dikonfirmasi oleh manajemen CENT. Jika pun ditanya, seperti sering dilakukan oleh BEI, maka jawaban standar akan keluar: manajemen tidak memiliki penjelasan atas peningkatan harga tersebut dan seterusnya. Hal yang pasti, pada perdagangan saham CENT Kamis pagi, seperti pada perdagangan Rabu, pialang jual terbesar atas saham CENT adalah UOB Kay Hiam Securities sebesar 200 lot. Sementara pembeli terbesar saham CENT diwakili oleh Millenium Danatama Sekuritas, juga 200 lot. 

Rabu, 05 Desember 2012

Siapa 'Menggoreng' Saham Centrin Online?


Senin (3/12) harga saham PT Centrin Online Tbk (CENT) ditutup naik 24,36% menjadi Rp485 dari Rp390 pada 30 November 2012. Selasa (4/12), sesuai pakem, Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara (suspen) perdagangan saham emiten penyedia jasa layanan internet yang bermarkas di Bandung itu. Alasannya, pada periode 21 November sampai 3 Desember harga CENT, secara kumulatif, telah meningkat 212,9%, dari Rp155 menjadi Rp485 per saham.

Rabu (5/12) ini, BEI membuka suspen CENT. Ternyata, harga CENT kembali melambung tinggi. Ketika sesi pertama perdagangan hari ini ditutup, harga CENT sudah mencapai Rp600 per saham, meningkat 23,71% dari harga sebelum suspen, Rp485 per saham. Bahkan, menurut data antrian jual dan beli StockWatch, tak ada lagi antrian jual CENT tetapi antri beli beli masih 886 lot (443 ribu saham), 325 lot diantaranya dengan harga Rp600 per saham.

Mengapa harga CENT naik pesat? Secara fundamental sebenarnya tak cukup alasan untuk peningkatan harga sebesar di atas. Bahkan jika dibandingkan dengan harga saham per 30 Desember 2011 sebesar Rp109, harga CENT telah meningkat 450%. Per September 2012, dengan aset Rp113,9 miliar, CENT membukukan pendapatan usaha Rp41,03 miliar, merosot sekitar 10% dari Rp45,71 miliar per September 2011.

Kontras dengan pendapatan, biaya usaha CENT, terutama beban umum dan administrasi, justru meningkat. Akibatnya, jika per September 2011 Centrin masih membukukan laba usaha Rp1,74 miliar, per September 2012 rugi usaha Rp4,53 miliar.

September 2011 sebenarnya Centrin sudah menderita kerugian bersih Rp735,15 juta. Akan tetapi sebagian besar kerugian itu karena ada kegiatan usaha yang dihentikan sebesar Rp1,99 miliar. Centrin masih membukukan laba sebelum pajak Rp1,17 miliar. Tahun ini, seperti tergambar di laporan keuangan per September 2012, Centrin menderita rugi bersih Rp2,29 miliar, meningkat kurang lebih 200% dari tahun sebelumnya.

Perkembangan harga saham Centrin periode 30 Des 2011 hingga 5 Des  2012
Kembali ke pertanyaan sebelumnya, mengapa harga CENT naik pesat? Tentu saja hanya investor yang memborong saham CENT sejak sebelum disuspen yang dapat menjawab pertanyaan  tersebut. Mereka tentu punya alasan hingga  sudi membeli saham CENT dengan harga 2,9 kali lebih mahal dalam tempo sekitar seminggu. Hari ini, pembelian terbesar saham CENT dilakukan melalui perusahaan pialang saham Philip Securities Indonesia. Jumlahnya 127 lot. Sementara penjual terbesar dilakukan oleh UOB Kay Hiam Securities sebesar 200 lot. Total volume transaksi CENT hari ini 296 lot, sementara pada periode 21 November sehingga sesi pertama Rabu (5/3) sebesar 3.068 lot atau 1,534 juta saham. (ba)

Kamis, 25 Oktober 2012

Anomali BEI: Tanpa Penjualan dan Modal Minus, Harga KARW Naik 769%


Ini mungkin hanya ada di Bursa Efek Indonesia (BEI). Bayangkan, emiten PT ICTSI Jasa Prima Tbk (KARW) per Juni 2012 tak membukukan penjualan sepeser pun, tapi meraih laba sebesar Rp50,18 miliar (Rp85,46 per saham). Per Juni 2011 emiten yang  sebelumnya bernama PT Maharlika Indonesia Tbk ini rugi Rp12,19 miliar.

Seluruh laba KARW per Juni 2012 berasal dari pos pendapatan operasi lain. Jumlahnya, Rp55,18 miliar. Setelah dikurangi beban umum dan administrasi serta beban operasi lain, KARW mencatat laba usaha Rp50,41 miliar dari rugi usaha Rp4,19 miliar per Juni 2011.

Sebesar Rp43,49 miliar atau 78,8% pendapatan operasi lain KARW dari penjualan properti investasi. Selebihnya, seperti diuraikan dalam catatan laporan keuangannya, berasal dari penjualan aset tetap, pendapatan sewa dan laba selisih kurs.

Keunikan lain KARW, per Juni 2012 asetnya mencapai Rp46,042 miliar, meningkat 249,51% dari Rp13,173 miliar per Desember 2011. Seluruh aset tersebut bersumber dari utang yang turun menjadi Rp48,898 miliar per Juni 2012 dari Rp66,199 miliar per Desember 2011. Selain itu, KARW adalah perusahaan yang tidak lagi memiliki modal sendiri alias defisit. Hanya saja jumlahnya telah turun dari minus Rp53,026 miliar per Desember 2011 menjadi Rp2,856 miliar pada Juni 2012.

KARW adalah salah satu wujud anomali di BEI. Keunikan yang dipaparkan di atas belum seberapa dibandingkan kenyataan bahwa kendati defisit dan membukukan laba tanpa ada penjualan, harga saham KARW meningkat 768,97% (dengan huruf biar lebih jelas: tujuh ratus enam puluh delapan koma tujuh puluh sembilan persen) pada periode 30 Desember 2011-24 Oktober 2012, yaitu dari Rp145 menjadi Rp1.260 per saham. Pada periode itu nilai kapitalisasi pasar KARW juga ikut melambung tinggi, dari Rp85,137 miliar menjadi Rp739,812 miliar.

Harga KARW meningkat pesat setelah ICTSI Far East Pte. Ltd mengambil alih sebagian besar saham perusahaan yang awalnya bergerak di bidang garmen itu. Bisnis ini sudah ditinggal oleh KARW. Para pengelola perusahaan tersebut gagal mendapatkan order produksi garmen  yang memungkinkannya tetap bertahan di arena bisnis “tukang jahit” itu. KARW telah memecat sebagian besar karyawannya.

Entah apa yang telah dilakukan oleh pemilik baru KARW. Harga KARW  pada akhir Agustus 2012 ditutup pada Rp500 per saham, naik 244,8% dari harga awal Agustus 2011. Selama September 2012 dua kali perdagangan saham KARW dihentikan (suspen) oleh BEI. Pertama pada 4 September, ketika harga KARW melambung 217,9%, dari Rp195 (27 Agustus) menjadi Rp620 per saham pada 3 September. Tiga hari kemudian, 7 September, KARW kembali disuspen karena harganya mencapai Rp960, naik sekitar 55% dari harga sebelum suspen, Rp620 per saham.

BEI membuka suspen KARW pada 17 September. Setelah itu harga KARW terus meningkat hingga mencapai posisi tertinggi Rp2.250 per saham pada 25 September. Setelah itu harga KARW fluktuatif hingga ditutup pada Rp1.150 per saham pada 25 Oktober 2012, turun 8,7% dari harga penutupan Rabu, 24 Oktober 2012. (ba)

Senin, 10 September 2012

Saham Terbaik Agustus 2012: Garda Tujuh Buana



 Jika ada pemilihan saham terbaik di Bursa Efek Indonesia (BEI) berdasarkan peningkatan harga saham, maka juaranya adalah PT Garda Tujuh Buana Tbk (GTBO). Pada periode 30 Desember 2011-31 Agustus 2012 harga saham emiten pertambangan batubara ini meningkat 943,10%, dari Rp580 menjadi Rp6.050 per saham.

Pertumbuhan harga saham emiten yang sahamnya dicatatkan dan mulai diperdagangkan di BEI pada 9 Juli 2009 ini jauh meninggalkan 457 emiten lain di BEI. Di peringkat ke-2, misalnya, PT J. Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) hanya mengalami peningkatan harga saham 700%. Sementara di peringkat ke-3, PT Surya Esa Perkasa Tbk (ESSA) yang masuk bursa pada 1 Februari 2012 tumbuh 297,54%.

Didirikan pada 2006, GTBO memiliki konsesi pertambangan batubara seluas 710 hektar di Kabupaten Bulungam, Kalimantan Timur. Cadangan batubara terbukti di kawasan tersebut mencapai 95,41 juta ton. Hingga Juni 2012 GTBO telah menambang 2,54 juta batubara di wilayah konsesi tersebut.

Emiten pertambangan yang 26,61% sahamnya dikuasai oleh PT Garda Minerals ini melakukan penawaran perdana 1,835 miliar saham Juli 2009. Dari penawaran umum perdana saham (PUPS) GTBO meraih tambahan modal sekitar Rp211 miliar. Kini, selain dimiliki oleh masyakarat investor sebesar 43,3%, Green River Pte. Ltd. Melalui Barclays Bank juga menguasai 30% saham GTBO.

Kinerja fundamental GTBO meningkat drastis pada 2012. Per Juni 2012 emiten beraset Rp1,45 triliun itu membukukan penjualan Rp1,148 triliun, meningkat 3.069,95% dari Rp36,215 miliar per Juni 2011. Menurut Narindar Kumar, Direktur GTBO, pada semester I 2012 GTBO meraih kontrak penjualan batubara US$75 juta (sekitar Rp711,15 miliar) dari agen pemasaran batubara di Timur Tengah. Selain itu, dari pasar ekspor lainnya GTBO meraih penjualan Rp436,90 miliar. Penjualan semester I 2012 GTBO sudah melampau penjualan tahun 2011 sebesar Rp319,70 miliar.

Dari penjualan sebesar di atas, per Juni 2012 GTBO membukukan laba Rp939,81 miliar (Rp375,92 per saham), tumbuh 7.294,25% jika dibandingkan dengan laba per Juni 2011 sebesar Rp12,71 miliar (Rp5,08 per saham).

Walau sudah meningkat 943,10%, harga saham GTBO tampaknya masih tetap akan naik pada hari-hari mendatang. Hingga sesi pertama perdagangan saham Senin (10/9) harga GTBO ditutup pada Rp6.600 per saham. Permintaan beli GTBO mencapai 699,5 ribu saham dengan harga antara Rp5.550-6.550 per saham, sementara penawaran jual hanya 246,5 ribu saham dengan harga antara Rp6.660-7.200 per saham.

Hanya saja, rasio harga saham terhadap nilai buku per saham GTBO yang mencapai 13 kali memang jauh di atas rata-rata BEI yang minggu lalu hanya sebesar 2,5 kali. Akan tetapi rasio harga saham terhadap labanya (disetahunkan) sekitar 8,7 kali, masih di bawah rata-rata BEI yang mencapai 13 kali. (baso amir)

Rabu, 02 Mei 2012


Kapitalisasi Pasar Emiten: Astra International Kokoh di Peringkat I

Posisi PT Astra International Tbk (ASII) sebagai emiten dengan nilai kapitalisasi pasar terbesar di Indonesia makin kokoh. Per 30 April 2012 nilai kapitalisasi pasar Astra mencapai Rp 287,43 triliun. Sementara kapitalisasi pasar PT HM Sampoerna Tbk di peringkat ke-2 sebesar Rp 237,56 triliun.

Hinga April 2012 harga saham emiten yang 50,11% sahamnya dimiliki oleh Jardine Cycle & Carriage Ltd, Singapura yang merupakan anak perusahaan Jardine Matheson, Hongkong itu ditutup pada harga Rp 71.000 per saham. Selama empat bulan pertama 2012 harga saham Astra turun 4,05% dari Rp 74.000 per saham pada 30 Desember 2011. Pada periode tersebut harga penutupan terendah Astra adalah Rp 68.250 per saham pada 24 Februari 2012 dan penutupan tertinggi Rp 79.400 per saham pada 27 Januari 2012.

Per Maret 2012    Astra meraih pendapatan bersih Rp 46,35 triliun, tumbuh 19,8% dari Rp 38,69 triliun per Maret 2011. Dari pendapatan sebesar itu Astra membukukan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk alias laba bersih sebesar Rp 4,65 triliun, meningkat 8,1% dari Rp 4,30 triliun per Maret 2011. Akan tetapi marjin laba bersih Astra per Maret 2012 turun menjadi 10% dari 11% pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Usaha penjualan otomotif yang dilakukan oleh Astra dan anak usahanya masih menjadi penyumbang terbesar pendapatan bersih per Maret 2012, yaitu Rp 24.25 triliun atau 52,32% terhadap pendapatan bersih Rp 46,35 triliun. Sektor alat berat dan pertambangan yang dilakukan oleh anak usaha PT United Tractors Tbk dan anak-anak usahanya menjadi penyumbang terbesar ke-2 dengan pendapatan bersih sebesar Rp 15,03 triliun. Selebihnya dari jasa keuangan, agribisnis, infrastruktur dan logistik dan teknologi informasi masing-masing sebesar Rp 3,06 triliun, Rp 2,58 triliun, Rp 1,68 triliun dan Rp 0,42 triliun. (ba)

Minggu, 12 Februari 2012

Saham Terbaik BEI per 10 Februari 2012


Harga saham sejumlah emiten yang secara fundamental terpuruk, paling tidak hingga September 2011, naik pesat pada minggu ke-2 Februari 2012.

Periode 3-10 Februari 2012 saham PT Zebra Nusantara Tbk (ZBRA) tercatat sebagai Emiten Terbaik di Bursa Efek Indonesia (BEI). Kembali diperdagangkan pada 8 Februari 2012setelah sekian lama disuspen, harga saham perusahaan taksi di Surabaya, Jawa Timur itu, ditutup naik jadi Rp103 per saham pada hari terakhir perdagangan minggu ke-2 bulan ini,  Jumat, 10 Februari 2012, meningkat 106% dari Rp 50 per saham pada 3 Februari 2012.

Kinerja fundamental ZBRA, hingga September 2011, sebenarnya masih buruk. Dengan pendapatan bersih Rp15,06 miliar (turun 14,5% dari September 2010 Rp17,617 miliar), ZBRA menderita rugi usaha Rp6,343 miliar, meningkat dari Rp4,606 miliar. Rugi bersih emiten beraset Rp56.727 miliar itu per September 2011 mencapai Rp9,215 miliar (Rp14,06 per saham).

Emiten terbaik ke-2 ditempati oleh PT Pembangunan Graha Lestari Indah Tbk (PGLI). Sempat dihentikan sementara perdagangannya, harga PGLI ditutup pada Rp197 per saham pada 10 Februari 2012, naik 93,14% dari sepekan sebelumnya dan meningkat 294% dari harga penutupan akhir tahun 2011 sebesar Rp50 per  saham.

Entah apa di balik pertumbuhan harga PGLI yang sangat fantastis itu. Per September 2011 emiten tersebut hanya membukukan pendapatan Rp10,276 miliar, turun 4% dari periode yang sama tahun sebelumnya. Walau turun, PGLI masih cetak laba bersih Rp72,797 juta (Rp0,14 per saham), anjlok 88% dari Rp615,271 juta (Rp1,26 per saham) pada September 2010. Dengan laba sebesar itu, maka rasio harga saham terhadap laba bersih atau price to earning ratio (PER) PGLI – luar biasa tinggi – 1407 kali.

PT Hotel Sahid Jaya International Tbk (SHID) berada di peringkat ke-3. Jumat, 10 Februari 2012, harga SHID ditutup pada Rp 495 per saham, naik 30,26% dari harga penutupan 3 Februrai 2012 Rp 380 per saham dan 22,22% dari harga penutupan akhir tahun 2011 sebesar Rp405 per saham.

Kinerja fundamental SHID tak lebih bagus dibandingkan ZBRA dan PGLI. Emiten pengelola sejumlah hotel itu menderita rugi usaha Rp6,341 miliar per September 2011 dari laba usaha Rp2,350 miliar per September 2010. Peningkatan pendapatan usaha 16,7% perusahaan tersebut dari Rp84,513 miliar menjadi Rp98,701 miliar tak dapat menutup beban usaha yang meningkat lebih pesat, 35,8%.

SHID memang masih cetak laba bersih Rp3,978 miliar (Rp3,46 per saham) dari Rp13,431 miliar (Rp11,91 per saham), tapi seluruh dari kegiatan non operasional.

Peringkat emiten terbaik ke-4 minggu lalu ditempati PT Asuransi Bintang Tbk (ASBI). Harga sahamnya naik 28,33% jadi Rp385 dari sebelumnya Rp300 per saham. Dari harga penutupan akhir tahun 2011 sebesar Rp275 per saham, harga ASBI telah meningkat 40%.

Pendapatan premi bersih  ASBI mencapai Rp65,162 miliar per September 2011, tumbuh 35,8% dari Rp47,983 miliar per September 2010. ASBI meraih laba bersih Rp3,777 miliar dari rugi Rp7,623 miliar pada tahun sebelumnya.

Adapun peringkat ke-5 ditempati oleh PT Humpuss Intermoda Transportasi Tbk. (HITS). Harga saham anak usaha Grup Humpuss di bidang transportasi (tanker) itu naik 24,22% jadi Rp280 dari sebelumnya Rp225 per saham. Akan tetapi sepanjang 2012 harga HITS masih lebih rendah 5,08% dari harga penutupan per 30 Desember 2011 sebesar Rp295 per saham.

Kinerja fundamental HITS lebih parah. Seperti tahun sebelumnya, dengan penjualan bersih Rp376,402 miliar (naik 1,35% dari tahun sebelumnya), HITS menanggung rugi kotor Rp7,136 miliar. Kerugian bersihnya melambung menjadi Rp112,360 miliar per September 2011 dari Rp47,610 miliar per September 2010. (baso amir)