Tampilkan postingan dengan label Portofolio. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Portofolio. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 Januari 2013

Saham Centrin Online bagai Naik “Roller Coaster”



Harga saham PT Centrin Online Tbk (CENT) bagaikan naik roller coaster. Penyedia layanan Internet yang berkantor pusat di Bandung, Jawa Barat ini tercatat sebagai emiten dengan kenaikan harga saham tertinggi sepanjang 2012. Ditutup pada Rp1.210 per saham pada 27 Desember,  berarti sepanjang 2012 harga CENT meningkat 1.010,09%. Selama Desember 2012 Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan dua kali penghentian sementara (suspen) perdagangan saham CENT.

Akan tetapi selama tiga hari perdagangan pada Januari 2013 ini harga saham CENT turun drastis. Per 4 Januari CENT ditutup pada Rp810 per saham, anjlok 33,06% dari harga penutupan Rp1.210 per saham pada 2012. Ini menempatkan CENT sebagai emiten dengan penurunan harga saham terbesar minggu lalu. Pada waktu yuang sama Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) BEI mencetak rekor tertinggi baru, 4.410,020 poin, naik 2,16% dari 4.316,687 poin per 27 Desember 2012.

Penurunan harga CENT berlanjut pada perdagangan Senin, 7 Januari 2013. Hingga pukul 10:34 WIB, harga CENT tercatat Rp680 per saham, turun 16,05% dari harga penutupan Jumat (4/1) sebesar Rp810 per saham.

Peningkatan harga CENT periode November-Desember 2012 memang tak didukung oleh kinerja fundamental yang memadai. PerSeptember 2012, dengan aset Rp113,9 miliar, CENT membukukan pendapatan usaha Rp41,03 miliar, merosot sekitar 10% dari Rp45,71 miliar per September 2011.

Kontras dengan pendapatan, biaya usaha CENT, terutama beban umum dan administrasi, justru meningkat. Akibatnya, jika per September 2011 Centrin masih membukukan laba usaha Rp1,74 miliar, per September 2012 rugi usaha Rp4,53 miliar.

September 2011 sebenarnya Centrin sudah menderita kerugian bersih Rp735,15 juta. Akan tetapi sebagian besar kerugian itu karena ada kegiatan usaha yang dihentikan sebesar Rp1,99 miliar. Centrin masih membukukan laba sebelum pajak Rp1,17 miliar. Tahun ini, seperti tergambar di laporan keuangan per September 2012, Centrin menderita rugi bersih Rp2,29 miliar, meningkat kurang lebih 200% dari tahun sebelumnya. (ba)

Kamis, 25 Oktober 2012

Anomali BEI: Tanpa Penjualan dan Modal Minus, Harga KARW Naik 769%


Ini mungkin hanya ada di Bursa Efek Indonesia (BEI). Bayangkan, emiten PT ICTSI Jasa Prima Tbk (KARW) per Juni 2012 tak membukukan penjualan sepeser pun, tapi meraih laba sebesar Rp50,18 miliar (Rp85,46 per saham). Per Juni 2011 emiten yang  sebelumnya bernama PT Maharlika Indonesia Tbk ini rugi Rp12,19 miliar.

Seluruh laba KARW per Juni 2012 berasal dari pos pendapatan operasi lain. Jumlahnya, Rp55,18 miliar. Setelah dikurangi beban umum dan administrasi serta beban operasi lain, KARW mencatat laba usaha Rp50,41 miliar dari rugi usaha Rp4,19 miliar per Juni 2011.

Sebesar Rp43,49 miliar atau 78,8% pendapatan operasi lain KARW dari penjualan properti investasi. Selebihnya, seperti diuraikan dalam catatan laporan keuangannya, berasal dari penjualan aset tetap, pendapatan sewa dan laba selisih kurs.

Keunikan lain KARW, per Juni 2012 asetnya mencapai Rp46,042 miliar, meningkat 249,51% dari Rp13,173 miliar per Desember 2011. Seluruh aset tersebut bersumber dari utang yang turun menjadi Rp48,898 miliar per Juni 2012 dari Rp66,199 miliar per Desember 2011. Selain itu, KARW adalah perusahaan yang tidak lagi memiliki modal sendiri alias defisit. Hanya saja jumlahnya telah turun dari minus Rp53,026 miliar per Desember 2011 menjadi Rp2,856 miliar pada Juni 2012.

KARW adalah salah satu wujud anomali di BEI. Keunikan yang dipaparkan di atas belum seberapa dibandingkan kenyataan bahwa kendati defisit dan membukukan laba tanpa ada penjualan, harga saham KARW meningkat 768,97% (dengan huruf biar lebih jelas: tujuh ratus enam puluh delapan koma tujuh puluh sembilan persen) pada periode 30 Desember 2011-24 Oktober 2012, yaitu dari Rp145 menjadi Rp1.260 per saham. Pada periode itu nilai kapitalisasi pasar KARW juga ikut melambung tinggi, dari Rp85,137 miliar menjadi Rp739,812 miliar.

Harga KARW meningkat pesat setelah ICTSI Far East Pte. Ltd mengambil alih sebagian besar saham perusahaan yang awalnya bergerak di bidang garmen itu. Bisnis ini sudah ditinggal oleh KARW. Para pengelola perusahaan tersebut gagal mendapatkan order produksi garmen  yang memungkinkannya tetap bertahan di arena bisnis “tukang jahit” itu. KARW telah memecat sebagian besar karyawannya.

Entah apa yang telah dilakukan oleh pemilik baru KARW. Harga KARW  pada akhir Agustus 2012 ditutup pada Rp500 per saham, naik 244,8% dari harga awal Agustus 2011. Selama September 2012 dua kali perdagangan saham KARW dihentikan (suspen) oleh BEI. Pertama pada 4 September, ketika harga KARW melambung 217,9%, dari Rp195 (27 Agustus) menjadi Rp620 per saham pada 3 September. Tiga hari kemudian, 7 September, KARW kembali disuspen karena harganya mencapai Rp960, naik sekitar 55% dari harga sebelum suspen, Rp620 per saham.

BEI membuka suspen KARW pada 17 September. Setelah itu harga KARW terus meningkat hingga mencapai posisi tertinggi Rp2.250 per saham pada 25 September. Setelah itu harga KARW fluktuatif hingga ditutup pada Rp1.150 per saham pada 25 Oktober 2012, turun 8,7% dari harga penutupan Rabu, 24 Oktober 2012. (ba)

Minggu, 12 Februari 2012

Saham Terbaik BEI per 10 Februari 2012


Harga saham sejumlah emiten yang secara fundamental terpuruk, paling tidak hingga September 2011, naik pesat pada minggu ke-2 Februari 2012.

Periode 3-10 Februari 2012 saham PT Zebra Nusantara Tbk (ZBRA) tercatat sebagai Emiten Terbaik di Bursa Efek Indonesia (BEI). Kembali diperdagangkan pada 8 Februari 2012setelah sekian lama disuspen, harga saham perusahaan taksi di Surabaya, Jawa Timur itu, ditutup naik jadi Rp103 per saham pada hari terakhir perdagangan minggu ke-2 bulan ini,  Jumat, 10 Februari 2012, meningkat 106% dari Rp 50 per saham pada 3 Februari 2012.

Kinerja fundamental ZBRA, hingga September 2011, sebenarnya masih buruk. Dengan pendapatan bersih Rp15,06 miliar (turun 14,5% dari September 2010 Rp17,617 miliar), ZBRA menderita rugi usaha Rp6,343 miliar, meningkat dari Rp4,606 miliar. Rugi bersih emiten beraset Rp56.727 miliar itu per September 2011 mencapai Rp9,215 miliar (Rp14,06 per saham).

Emiten terbaik ke-2 ditempati oleh PT Pembangunan Graha Lestari Indah Tbk (PGLI). Sempat dihentikan sementara perdagangannya, harga PGLI ditutup pada Rp197 per saham pada 10 Februari 2012, naik 93,14% dari sepekan sebelumnya dan meningkat 294% dari harga penutupan akhir tahun 2011 sebesar Rp50 per  saham.

Entah apa di balik pertumbuhan harga PGLI yang sangat fantastis itu. Per September 2011 emiten tersebut hanya membukukan pendapatan Rp10,276 miliar, turun 4% dari periode yang sama tahun sebelumnya. Walau turun, PGLI masih cetak laba bersih Rp72,797 juta (Rp0,14 per saham), anjlok 88% dari Rp615,271 juta (Rp1,26 per saham) pada September 2010. Dengan laba sebesar itu, maka rasio harga saham terhadap laba bersih atau price to earning ratio (PER) PGLI – luar biasa tinggi – 1407 kali.

PT Hotel Sahid Jaya International Tbk (SHID) berada di peringkat ke-3. Jumat, 10 Februari 2012, harga SHID ditutup pada Rp 495 per saham, naik 30,26% dari harga penutupan 3 Februrai 2012 Rp 380 per saham dan 22,22% dari harga penutupan akhir tahun 2011 sebesar Rp405 per saham.

Kinerja fundamental SHID tak lebih bagus dibandingkan ZBRA dan PGLI. Emiten pengelola sejumlah hotel itu menderita rugi usaha Rp6,341 miliar per September 2011 dari laba usaha Rp2,350 miliar per September 2010. Peningkatan pendapatan usaha 16,7% perusahaan tersebut dari Rp84,513 miliar menjadi Rp98,701 miliar tak dapat menutup beban usaha yang meningkat lebih pesat, 35,8%.

SHID memang masih cetak laba bersih Rp3,978 miliar (Rp3,46 per saham) dari Rp13,431 miliar (Rp11,91 per saham), tapi seluruh dari kegiatan non operasional.

Peringkat emiten terbaik ke-4 minggu lalu ditempati PT Asuransi Bintang Tbk (ASBI). Harga sahamnya naik 28,33% jadi Rp385 dari sebelumnya Rp300 per saham. Dari harga penutupan akhir tahun 2011 sebesar Rp275 per saham, harga ASBI telah meningkat 40%.

Pendapatan premi bersih  ASBI mencapai Rp65,162 miliar per September 2011, tumbuh 35,8% dari Rp47,983 miliar per September 2010. ASBI meraih laba bersih Rp3,777 miliar dari rugi Rp7,623 miliar pada tahun sebelumnya.

Adapun peringkat ke-5 ditempati oleh PT Humpuss Intermoda Transportasi Tbk. (HITS). Harga saham anak usaha Grup Humpuss di bidang transportasi (tanker) itu naik 24,22% jadi Rp280 dari sebelumnya Rp225 per saham. Akan tetapi sepanjang 2012 harga HITS masih lebih rendah 5,08% dari harga penutupan per 30 Desember 2011 sebesar Rp295 per saham.

Kinerja fundamental HITS lebih parah. Seperti tahun sebelumnya, dengan penjualan bersih Rp376,402 miliar (naik 1,35% dari tahun sebelumnya), HITS menanggung rugi kotor Rp7,136 miliar. Kerugian bersihnya melambung menjadi Rp112,360 miliar per September 2011 dari Rp47,610 miliar per September 2010. (baso amir)

Selasa, 09 Agustus 2011

Dalam Seminggu, Kapitalisasi Astra Turun Rp28,136 Triliun


Hanya dalam tujuh hari bursa nilai kapitalisasi pasar PT Astra International Tbk turun Rp28.136 triliun menjadi Rp257,273 triliun dari Rp285,409 triliun per 29 Juli 2011. Pada sesi pertama perdagangan saham di BEI, Selasa (9/8), harga saham Astra International (ASII) ditutup pada Rp63.550, turun 6,98% dari harga penutupan 29 Juli 2011 sebesar Rp70.500 per saham.

Bahkan jika dibandingkan dengan kapitalisasi pasar tertinggi pada 27 Juli 2011 sebesar Rp303,627 triliun, maka nilai Astra telah merosot Rp46,354 triliun. Pada hari itu harga ASII ditutup pada Rp70.500 per saham.

Penurunan nilai kapitalisasi pasar Astra seiring kemerosotan harga-saham di BEI seminggu terakhir ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) BEI yang sempat meningkat mencapai rekor tertinggi baru sebesar 4.193,441 poin pada 1 Agustus 2011, pada sesi pertama Selasa (9/8) ditutup pada 3.747,477 poin, turun 10,63%. Ini diperkirakan akan berlanjut. Dari 312 emiten yang sahamnya diperdagangkan hari ini, harga saham 257 emiten ditutup turun, sementara 29 dan 26 emiten masing-masing tetap dan naik.

Akibat penurunan tersebut, nilai total kapitalisasi pasar emiten BEI turun Rp244,422 triliun, dari Rp3.722,858 triliun per 29 Juli 2011 menjadi Rp3.478,436 triliun per 8 Agustus 2011.

Kendati merosot, Astra masih menempati peringkat pertama emiten dengan kapitaliasi pasar terbesar di BEI. PT Bank Central Asia (BBCA) Tbk berada di peringkat ke-2 dengan nilai kapitalisasi Rp196.488 triliun. Jika per 29 Juli 2011 terdapat delapan emiten dengan kapitalisasi di atas Rp100 triliun, per 8 Agustus 2011 tinggal tujuh (7) emiten. PT United Tractors Tbk dengan Rp101,832 triliun merosot ke posisi ke-9 dengan Rp89,337 triliun. Posisinya digantikan oleh Gudang Garam dengan kapitalisasi pasar Rp96,204 triliun. (ba)

Rabu, 08 Juni 2011

Kapitalisasi Pasar BEI Menguap Rp12,561 Triliun


Seiring penurunan IHSG BEI sebesar 0,45% atau 17,132 poin menjadi 3.825,281 poin pada Rabu (8/6), nilai kapitalisasi seluruh emiten juga merosot 0,37%. Tetapi nilai nominal dari 0,37% tersebut adalah Rp12,561 triliun, dari Rp3.439,69 triliun menjadi Rp3.427,13 triliun.

Lima emiten yang nilai kapitalisasi pasarnya secara nominal meningkat paling tinggi pada Rabu (8/6) adalah HM Sampoerna (HMSP), Bayan Resources (BYAN), Harum Energy (HRUM), Bank Danamon (BDMN) dan Bumi Resources Miunerals (BRMS), masing-masing Rp1,315 triliun, Rp1 triliun, Rp945 miliar, Rp833,6 miliar dan Rp767,1 miliar.

Adapun lima emiten yang nilai kapitalisasi pasarnya secara nominal turun paling tinggi Rabu ini adalah Bank Central Asia (BBCA), Indocement Tunggal Prakasa (INTP), Bumi Resources (BUMI), Bank Negara Indonesia (BBNI) dan Indofood Sukses Makmur (INDF), masing-masing Rp2,441 triliun, Rp2,025 triliun, Rp1,558 triliun, Rp1,385 triliun dan Rp1,317 triliun.

Kendati nilai kapitalisasi turun paling tinggi Rabu ini, BBCA masih di peringkat ke-2 emiten dengan kapitalisasi terbesar di BEI, yaitu Rp170,859 triliun. Astra International (ASII) masih kokoh di peringkat pertama dengan kapitalisasi pasar Rp240,877 triliun. Di urutan ke-3, ke-4 dan ke-5 masing-masing Bank Mandiri (BMRI), Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dan PT Telekomunikasi Indonesia (TLKM) masing-masing sebesar Rp161,699 triliun, Rp156,304 triliun dan Rp151,199 triliun. (ba)

Kamis, 12 Mei 2011

Garuda Masih Didera Kerugian, Sahamnya Turun 28%

Saham PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk pada 10 Mei 2010 ditutup pada Rp540 per saham. Itu berarti turun 28% dari harga perdana Rp750 per saham.

Emiten 2011 BEI yang harga sahamnya ditutup di bawah harga perdana bukan hanya Garuda. Hal serupa menimpa PT Megapolitan Developments Tbk sebesar 38%, dari Rp250 menjadi Rp155 per saham dan PT Martina Berto Tbk turun 21,61% menjadi Rp580 dari harga penawaran perdana Rp740 per saham.

Penurunan harga saham Garuda tak terlepas dari kinerjanya. Pada 2010, BUMN penerbangan yang sahamnya dicatatkan dan mulai diperdagangkan di BEI pada 11 Februari 2011 itu membukukan rugi usaha Rp67,16 miliar dari laba usaha Rp918,29 miliar pada 2009. Kendati demikian per Desember 2010 Garuda masih membukukan laba bersih Rp515,52 miliar, anjlok 49,68% dari Rp1,017 triliun per Desember 2009.

Akan tetapi harus diingat, seluruh laba bersih Garuda – mencapai Rp515,52 miliar pada 2010 atau Rp28 per saham – berasal dari kegiatan non-operasional seperti pendapatan lain-lain sebesar Rp126,118 miliar, bagian laba bersih perusahaan asosiasi, manfaat pajak dan laba dari pos luar biasa, dalam hal ini keuntungan dari restrukturisasi utang. Laba tersebut anjlok 49,48% dari tahun 2009 yang mencapai Rp1,019 triliun.

Pada 2010 Garuda membukukan pendapatan usaha Rp19,534 triliun, tumbuh 9,38% dari Rp17,860 triliun pada 2009. Akan tetapi beban usaha Garuda naik lebih pesat, yaitu 15,69%, dari Rp16,942 triliun menjadi Rp19,601 triliun.

Bagaimana 2011?

Kondisi kinerja keuangan Garuda pada 2010 seperti digambarkan di atas, diperkirakan masih akan terulang pada 2011. Tanda-tandanya sudah terlihat pada triwulan I 2011. Pendapatan usaha Garuda tumbuh 49,6% menjadi Rp5,189 triliun dari Rp3,467 triliun per Maret 2010.

Akan tetapi beban usaha Garuda juga naik 42,28% dari Rp3,829 triliun menjadi Rp5,448 triliun. Akibatnya, Garuda kembali membukukan kerugian usaha Rp258,73 miliar per Maret 2011. Ini sudah lebih rendah dari kerugian usaha per Maret 2010 yang mencapai Rp361,26 miliar.

Hanya saja, pada triwulan I 2010 Garuda masih memiliki sejumlah pendapatan non operasional untuk menutup kerugian tersebut. Itu sebabnya Garuda masih memperoleh laba bersih Rp18,021 miliar atau Rp0,92 per saham.

Akan tetapi pada triwulan I 2011, Garuda tidak lagi menikmati berbagai pendapatan non operasional tersebut. Akibatnya Garuda rugi Rp183,56 miliar atau minus Rp8,10 per saham. Jika tak mampu menaikkan pendapatan dan menekan beban usaha, kerugian Garuda bisa mencapai Rp700 miliar pada 2011. Ini tentu saja berita buruk bagi BUMN yang sedang berjuang keras meraih laba untuk menutup akumulasi kerugian yang masih mencapai Rp6,8 triliun pada Desember 2010 itu. (ba)

Senin, 29 November 2010

Laba Bakrie Telecom Tumbuh 52%, Sahamnya Layak Koleksi?

PT Bakrie Telecom Tbk. (BTEL) mencetak laba bersih Rp 148,597 miliar (Rp5,22 per saham) per September 2010. Ini meningkat 52,67% jika dibandingkan laba per September 2009 sebesar Rp 97,330 miliar (Rp3,42 miliar). Dengan pertumbuhan laba sebesar itu, apakah saham BTEL layak dibeli?

Per Jumat, 26 November, harga Bakrie Telecom ditutup pada Rp 245 per saham. Ini berarti pada periode 30 Desember 2009-26 November 2010 harga BTEL telah tumbuh 66,67%. Pada harga itu, rasio harga saham terhadap laba bersih per saham atau PER (Price to Earning Ratio) BTEL telah mencapai 35,5 kali, jauh di atas rata-rata PER di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang masih 17,16 kali.

Iklan gencar plus inovasi produk dan layanan tampaknya belum mampu mendongkrak pendapatan BTEL secara signifikan. Per September 2010 BTEL membukukan pendapatan Rp 2,048 triliun, hanya tumbuh 1,7% dari pendapatan per September 2009 sebesar Rp 2,013 triliun. Ini jauh di bawah pertumbuhan pendapatan operator lain yang mencapai 31%.

Per September 2010 beban usaha Bakrie Telecom mencapai Rp1,857 triliun, naik 3,3% dari Rp1,798 triliun per September 2009. Akibatnya, laba usaha operator telepon seluler di bawah Grup Bakrie beraset Rp 12,311 triliun itu turun 11,5% menjadi Rp190,715 miliar dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp215,601 miliar.

Kinerja operasional BTEL pada periode sembilan bulan pertama 2009 sebenarnya lebih bagus dibandingkan periode yang sama 2010. Ini tergambar dari marjin laba usaha per September 2009 yang mencapai 10,7%, sementara per September 2010 turun menjadi 9,31%.

Seperti halnya laba bersih, laba sebelum pajak BTEL juga meningkat pesat, yaitu 51,2%, dari Rp 131,844 miliar menjadi Rp 199,366 miliar. Pertumbuhan tersebut dari penghasilan lain-lain, terutama dari selisih kurs dan penghasilan lain-lain. Per September 2009 BTEL menanggung beban lain-lain bersih Rp 83,758 milir, sementara per September 2010 meraih penghasilan lain-lain bersih Rp 8,651 miliar.

Kendati beban keuangan – antara lain beban bunga kredit bank dan obligasi – naik hamper 100%, manajemen BTEL dapat menutup kenaikan tersebut dari laba selisih kurs yang mencapai Rp 132,334 miliar per September 2010, meningkat 57% dari tahun sebelumnya. Selain itu beban tersebut juga ditutup dengan penghasilan lain-lain bersih yang mencapai Rp 176,869 miliar dari minus Rp 15,159 miliar tahun sebelumnya. Sumbernya, menurut catatan laporan keuangan BTEL, pengembalian kelebihan bayar biaya lisensi frekuensi radio ke BHP Frekuensi Perusahaan pada periode 2006-2010 yang mencapai Rp 200,916 miliar. (baso amir)

Kamis, 31 Juli 2008

Pelonjakan Harga Gudang Garam: Penghormatan kepada Rachman Halim?

Sehari setelah Rachman Halim, Presiden Komisaris PT Gudang Garam Tbk meninggal dunia, harga saham pabrik rokok yang bermarkas di Kediri, Jawa Timur itu, naik pesat. Pada Senin (29/7), harga GGRM ditutup menguat 19,3%, dari Rp5.200 menjadi Rp6,200 per saham. Keesokan harinya, Selasa (29/7), GGRM meningkat lebih pesat lagi, yaitu 23,38% menjadi Rp7.650 per saham. Dua hari berturut-turut harga GGRM meningkat 47,11%.

Seorang investor perorangan mengemukakan, peningkatan harga saham Gudang Garam ini sebagai bentuk penghormatan kepada almarhum Rachman Halim. “Saya tidak melihat alasan fundamental yang signifikan atas kenaikan tersebut,” katanya. Ia mengakui, volume perdagangan GGRM pada Senin dan Selasa memang naik jika dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya. “Tetapi tetap tipis jika dibandingkan dengan saham publik Gudang Garam,” katanya.

Volume perdagangan GGRM pada Senin (28/7), menurut data StockWatch, mencapai 1,31 juta saham, naik 20,1% dari hari sebelumnya, 1,091 juta unit. Volume perdagangan GGRM meningkat menjadi 6,574 juta saham pada Selasa (29/7). Ini merupakan volume transaksi GGRM terbesar dalam dua tahun terakhir. Kendati begitu, investor tersebut mengemukakan, volume tersebut hanya 1,23% dari total saham publik Gudang Garam yang mencapai 536,436 juta saham. Menurut daata StockWatch, sekitar 72,12% saham Gudang Garam masih dikuasai oleh para pendiri perusahaan tersebut lewat PT Suryaduta Investama dan PT Suryamitra Kusuma.

Pernyataan investor perorangan di atas ada benarnya. Pada perdagangan saham di BEI Kamis (31/7), harga GGRM ditutup turun 13,1% menjadi Rp6.650 dari harga penutupan per 29 Juli 2008 sebesar Rp7.650 per saham.

Kinerja fundamental Gudang Garam pada semester I 2008, berdasarkan laporan keuangan per Juni 2008 yang dipublikasikan Kamis (31/7), lebih baik jika dibandingkan dengan pabrik rokok lainnya. Jika laba bersih per Juni 2008 HM Sampoerna merosot sekitar 5%, maka laba Gudang Garam meningkat 25,4%, dari Rp710,565 miliar (Rp369 per saham) menjadi Rp891,358 miliar (Rp463 per saham).

Pada semester I 2008, Gudang Garam dengan aset Rp24,904 triliun dan merupakan pabrik rokok dengan karyawan terbesar di Indonesia, membukukan penjualan Rp15,056 triliun. Penjualan ini meningkat 12,19% jika dibandingkan dengan penjualan per Juni 2007 sebesar Rp13,420 triliun.

Peningkatan biaya cukai rokok tampaknya tidak berpengaruh negatif terhadap kinerja operasional Gudang Garam. Selain berhasil menaikkan penjualan, marjin laba operasi Gudang Garam juga meningkat menjadi 10,14% per Juni 2008 dari 9,31% per Juni 2007. Pertumbuhan beban penjualan GGRM pada periode Januari-Juni 2008 dapat diimbangi penurunan beban operasional dari Rp1,236 triliun menjadi Rp900,14 miliar.

Dengan asumsi kinerja Gudang Garam pada semester II 2008 sama dengan semester I, maka laba bersih GGRM pada 2008 diperkirakan mencapai Rp926 per saham. Pada harga Rp6.650 per unit, maka rasio harga saham terhadap laba bersih (price to earning artio) GGRM sekitar 7,1 kali. Ini lebih rendah dari PER HM Sampoerna yang mencapai 12,27 kali. (Baso Amir)

Selasa, 10 Juni 2008

Kapitalisasi Pasar di BEI: BUMI Gusur Telkom

Sejarah baru tercetak di Bursa Efek Indonesia (BEI) Senin (9/6) ini. Posisi PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) sebagai emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar di BEI digusur oleh PT Bumi Resources Tbk (BUMI).

Pada hari pertama perdagangan pekan ini, harga BUMI ditutup menguat Rp550 (6,96%), dari Rp7.900 menjadi Rp8.450 per saham. Ini menyebabkan nilai kapitalisasi pasar BUMI meningkat dari Rp153,292 triliun pada akhir pekan lalu menjadi Rp163,964 triliun. Adapun TLKM yang harga sahamnya turun Rp50 (0,69%) dari Rp7.950 menjadi Rp7.900 per saham, nilai kapitalisasinya merosot dari Rp160,272 triliun menjadi Rp159,264 triliun.

Pada periode 2 Januari-9 Juni 2008, harga saham Telkom di BEI telah merosot 21% dari Rp10.000 menjadi Rp7.900 per unit. Pada periode yang sama BUMI meningkat 40,83%, dari Rp6.000 menjadi Rp8.450 per saham. Bahkan pada 4 Juni 2008 harga saham TLKM sempat mencapai titik terendah dalam 12 bulan terakhir, yaitu Rp7.850 per saham.

Per Maret 2008, dari pendapatan yang meningkat 8,54% menjadi Rp 15,032 triliun, Telkom membukukan laba bersih Rp3,207 triliun atau Rp161,50 per saham. Sementara periode yang sama tahun sebelumnya Telkom meraih laba bersih Rp3,042 triliun dari pendapatan sebesar Rp13,848 triliun.
Hingga 9 Juni 2008 laporan keuangan BUMI per Maret 2008 belum dipublikasikan. Akan tetapi per Desember 2007, perusahaan pertmabangan batubara terbesar di Indonesia meraih laba bersih US$789,004 juta atau US$0,04307 per saham. Ini meningkat 254,9% dari laba bersih per Desember 2006 sebesar US$222,305 juta atau US$0,01146 per saham. (ba)

Kamis, 08 November 2007

Reksadana Terbaik per Oktober 2007: Makinta Mantap


Kinerja reksadana saham Makinta Mantap benar-benar mantap. Selama setahun – periode 30 Oktober 2006 - 31Oktober 2007, NAB (Nilai Aktiva Bersih) Makinta Mantap tumbuh 139,96%, dari Rp1.825,43 menjadi Rp4.355,12 per unit.

Makinta Mantap meninggalkan jauh para pesaingnya di kelompok reksa dana saham. NAB Fortis Ekuitas yang berada di peringkat ke-2 hanya tumbuh 96,33% pada periode tersebut. Pertumbuhan NAB reksadana saham peringkat ke-3 hingga ke-10 masing-masing Pratama Saham (86,19%), Dana Ekuitas Prima (79,95%), Mandiri Investa Atraktif (76,60%), Schroder Dana Istimewa (74,96%), Trim Kapital (73,63%), Bahana Dana Prima (73,31%), Manulife Dana Saham (71,43%) dan Schroder Dana Prestasi Plus di peringkat ke-10 dengan pertumbuhan NAB 69,82%.

Pada periode di atas IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) BEJ naik 67,29%, dari 1.580,189 menjadi 2.643,487 poin. Mengacu pada kenaikan IHSG, maka terdapat 14 reksa dana saham yang kenaikan NAB-nya melampaui pertumbuhan IHSG BEJ.

Makinta Mantap diterbitkan dan dikelola PT Makinta Securities. Pada 30 Oktober 2006, total subscription Makinta Mantap mencapai 31.683.168,32. Pada hari itu total unit reksa dana saham Makinta Mantap yang telah diterbitkan mencapai 8.274.115,66 dengan nilai aktiva bersih (NAB) Rp8,275 miliar atau Rp1.825,43 per unit.

Setahun kemudian pada 31 Oktober 2007, total subscription Makinta Mantap menjadi 593.110.887,27, meningkat 1.772,01%. Total NAB reksa dana tersebut mencapai Rp179,956 miliar untuk total 41.320.579,64 unit atau Rp4.355,12 per unit. Itu berarti dalam dua belas bulan dana kelolaan Makinta Mantap meningkat hampir 20 kali lipat.

Menurut data Bapepam-LK, per 30 Oktober 2006, sepuluh besar saham yang mengisi portofolio investasi Makinta Mantap adalah PT Ricky Putra Globalindo Tbk (RICY), PT Sumalindo Lestari Jaya Tbk (SULI), PT Bank Bumi Artha Tbk, PT Radiant Utama Interisco Tbk, PT Suryainti Permata Tbk, PT Ciputra Surya, PT Indosat Tbk, PT Summarecon Agung Tbk, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), dan PT Tunas Ridean Tbk (TURI).

Per 31 Oktober 2007 sepuluh besar saham pengisi portofolio investasi Makinta Mantap masih didominasi sektior properti. Ricky, Telkom dan Summarecon tetap “dipegang” setelah setahun kemudian. Akan tetapi kini, posisi teratas ditempati oleh PT Bakrieland Development Tbk (ELTY), lalu didusul oleh saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), Telkom, Ricky, PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk, Summarecon dan PT Modernland Realty Tbk. (Baso Amir)

Jumat, 02 November 2007

Sektor Media: MNCN Mencorong, Indosiar Terpuruk


Inilah bintang baru sektor media di BEJ: PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN). Dicatatkan dan mulai diperdagangkan di BEJ pada 24 April 2007, harga saham MNCN memang tidak meroket seperti halnya IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) BEJ yang berdasarkan harga penutupan sesi pertama Jumat (2/11) telah meningkat 46,46% dari IHSG per 2 Januari 2007.

Pada periode 24 April 2007 hingga penutupan pada sesi pertama perdagangan Jumat (2/11), gain MNCN hanya 6,6%, yaitu dari harga perdana Rp900 menjadi Rp960 per saham. Harga tertinggi MNCN pada periode tersebut adalah Rp1.060 per saham pada 26 Juli 2007.

Dibandingkan emiten lain di sektor media, perolehan gain MNCN memang bukan yang terbaik. Pada periode yang sama, harga saham PT Tempo Inti Media Tbk (TMPO) – Majalah dan Koran Tempo -- naik 71,9%, dari Rp70 menjadi Rp120 per saham. Lalu, saham PT Indosiar Karya Media Tbk (IDKM) – induk PT Indosiar Visual Mandiri – tumbuh 27,3%, dari Rp385 menjadi Rp490 per saham. Saham PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) – induk SCTV – hanya tumbuh 4,12%, sementara saham PT Abdi Bangsa Tbk (ABBA) turun 6,5% pada periode tersebut.

Akan tetapi, dari segi kinerja keuangan hingga September 2007 MNCN menyalip semua emiten di sektor media. Per September 2007, perusahaan yang 70% sahamnya dikuasai oleh PT Global Mediacom Tbk (BMTR) itu membukukan pendapatan Rp2,209 triliun, naik 51,38% dari pendapatan pada periode yang sama 2006, yaitu Rp1,029 triliun.

Dibandingkan dengan emiten media lainnya, sumber pendapatan MNCN memang lebih beragam. Selain mengelola tiga stasiun TV (RCTI, TPI dan Global TV), perusahaan ini memiliki jaringan radio (Trijaya, Woman Radio dan Radio Dangdut), media cetak (Seputar Indonesia dan sejumlah koran edisi daerah di Jawa Barat, Jawa Tengah dan DIY, Jawa Timur, Sumatera Utara, Sumatera Selatan dan Sulawesi Selatan) serta media online (Okezone.com).

Akan tetapi tulang punggung pendapatan MNCN masih media TV. Seperti dikemukakan oleh Direksi MNCN dalam laporan keuangan per September 2007 yang dikirimkan ke BEJ, Rp2,092 triliun dari Rp2,209 triliun pendapatan MNCN berasal dari televisi. Ini meningkat 51,6% dari periode yang sama tahun sebelumnya. Penyumbang kedua adalah media cetak sebesar Rp104,51 miliar, naik 47% dari tahun lalu. Adapun radio menyumbangkan mendapatan Rp12,994 miliar, hanya 0,59% dari total pendapatan MNCN.

Dari pendapatan Rp2,092 triliun itu, MNCN membukukan laba bersih Rp326,35 miliar, naik 51,01% dari laba bersih per September 2006 sebesar Rp216,12 miliar. Akan tetapi laba bersih per saham MNCN turun 18,37%, dari Rp29,07 pada September 2006 menjadi Rp23,73 per saham. Penyebabnya, jumlah saham meningkat menjadi 13,75 miliar dari sebelumnya 7,436 miliar. Hal serupa terjadi pada rasio kembalian atas ekuitas (ROE atau return on equity), anjlok dari 20,99% menjadi 8,6%.

Dengan kinerja seperti di atas, masih adakah ruang peningkatan harga saham MNCN? Rasio harga saham terhadap laba bersih per saham (PER atau price to earning ratio) MNCN sekitar 30 kali. Ini jauh di atas PER Tempo (TMPO) sebesar 12,9 kali dan Surya Citra Media (SCMA) 11,9 kali.

Akan tetapi kinerja fundamental MNCN di atas TMPO dan SCMA. Per September 2007, pendapatan TMPO turun 5,78% menjadi Rp111,754 miliar dari sebelumnya Rp118,61 miliar. Kendati begitu, pada triwulan ke-3 tahun ini, TMPO sudah membukukan laba bersih Rp2,18 miliar. Periode sama tahun sebelumnya, perusahaan media tertua dari semua emiten media di BEJ itu masih merugi Rp7,254 miliar.

Hal serupa dialami oleh Indosiar Karya Media (IDKM) dan anak perusahaannya. Pendapatannya, per September 2007 hanya Rp444,113 miliar, turun 3,53% dari tahun sebelumnya Rp460,361 miliar. Secara operasional pemilik stasiun TV Indosiar ini masih merugi Rp52,943 miliar, turun sekitar 65% dari rugi operasi tahun sebelumnya sebesar Rp165,654 miliar. Akan tetapi rugi bersih IDKM per September 2007 hanya turun 1,21% menjadi Rp180,986 miliar dari sebelumnya Rp183,198 miliar.

Selain MNCN, hanya Surya Cipta Media (SCMA) yang pendapatan dan labanya masih meningkat per September 2007. Dari pendapatan Rp947,096 miliar – naik 3,39% dari tahun sebelumnya – SCMA membukukan laba bersih Rp120,105 miliar. Ini meningkat 155,67% jika dibandingkan laba bersih per September 2006 sebesar Rp46,977 miliar.

Secara operasional, SCMA cenderung makin efisien. Beban usahanya turun 9,68% di tengah pendapatan yang hanya meningkat 3,39%. Itu sebabnya, marjin laba operasi perusahaan beraset Rp2,531 triliun itu meningkat dari 17,21% menjadi 27,68%. Marjin laba bersih SCMA naik lebih pesat, dari 5,13% menjadi 12,68%. Akan tetapi harga sahamnya hanya naik 25%, masih lebih rendah dari pertumbuhan pasar seperti tergambar dari kenaikan IHSG BEJ sebesar 46,46% pada periode 2 Januari-2 Nopember 2007. Jadi, masih ada peluang untuk naik. (Baso Amir)

Jumat, 31 Agustus 2007

Anomali BEJ: PT ATPK Resources Tbk

Semula perusahaan ini bernama PT Anugrah Tambak Perkasindo (ATPK) Tbk dengan bisnis utama pembenihan udang. Saham perusahaan yang markasnya dipindahkan dari di Jln, Bangka, Medan ke Jakarta pada Juni 2007 itu dicatatkan di BEJ pada 4 April 2002 dengan harga penawaran perdana Rp300 per saham.

Sejak diperdagangkan di BEJ harga ATPK terus merosot hingga ditutup Rp51 per unit pada 28 Desember 2002. Pada ulang tahun pertama pecatatan saham ATPK di BEJ, 4 April 2003, harganya tinggal Rp42, sudah merosot 86% dari harga perdana. Akan tetapi pada 28 Desember 2006 ATPK ditutup naik menjadi Rp51 per saham.

Tampaknya, penurunan harga saham ini sejalan dengan kinerja fundamental ATPK. Pada 2002, dengan penjualan Rp33,32 miliar, ATPK membukukan laba bersih Rp1,68 miliar atau Rp4 per saham. Itulah tahun terakhir ATPK membukukan laba. Tahun-tahun berikutnya, 2003-2006, ATPK merugi hingga mencapai Rp30,22 miliar pada 2006. Tahun itu penjualan ATPK hanya Rp1,53 miliar. Wajar jika harga saham ATPK juga merosot.

Akan tetapi sejak Februari 2007 saham ATPK menggeliat. Harganya naik drastis dan ditutup pada Rp228 per unit 19 Februari 2007. Itu berarti meningkat 374% dalam tempo sekitar 45 hari. Puncaknya terjadi 15 Juni 2007, harga ATPK mencapai Rp1.575 per saham, naik 2.988,23% dari harga 2 Januari 2007 sebesar Rp51 per saham.

Kenaikan harga 2.988,23% itu tentu saja fenomenal. Pada periode yang sama Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) BEJ hanya naik 15,4%. Selain itu, kinerja fundamental ATPK, seperti terlihat pada laporan keuangan per Juni 2007, belum juga pulih. Dengan penjualan hanya Rp315,87 juta, ATPK membukukan rugi usaha Rp16,01 miliar. Bahkan pendapatan tersebut belum dapat menutup beban pokok penjualan sebesar Rp2,29 miliar. ATPK masih menderita rugi kotor Rp1,972 miliar. Pendapatan lain-lain ATPK bahkan lebih besar dari pendapatan operasional, yaitu Rp450 juta. Ini yang menyebabkan rugi bersih lebih kecil dari rugi usaha, yaitu Rp14,394 miliar (minus Rp35 per saham).

Lalu apa “di balik” kenaikan harga saham ATPK yang “gila-gilaan” sepanjang 2007 ini sehingga perdagangan sahamnya sempat disuspen oleh BEJ? Tampaknya ini berkaitan dengan restrukturisasi dan perubahan binis inti ATPK. Diawali dengan prubahan nama menjadi PT ATPK Resources, perusahaan ini mendirikan dan mengakuisisi 10 perusahaan pada 2006. Tiga dari 10 anak perusahaan tersebut dimiliki secara langsung oleh ATPK, sementara tujuh lainnya melalui anak perusahaanya, PT Modal Investasi Mineral.

Ke-10 anak perusahaan tersebut bergerak di bidang pembangkitan tenaga listrik, minyak dan gas bumi, pertambangan batubara, pertambangan nikel dan jasa eksplorasi. Enam dari 10 anak perusahaan tersebut bergerak di bidang pertambangan batubara. Areal penambangannya di Tarakan, Tuhup, Sangatta, dan Berau (Kalimantan Timur) serta Lampung.

Jadi, tampaknya, para investor berani membayar mahal saham ATPK karena mengantisipasi “peruntungan” anak-anak perusahaan di masa mendatang. Mereka tidak peduli ATPK masih merugi, paling tidak hingga Juni 2007. Di sini berlaku hukum “ada permintaan ada harga.” Tetapi benarkah ATPK layak dihargai Rp1.575 per saham? Itu memang harga tertinggi. Pada perdagangan Rabu (29/8), ATPK ditutup pada harga Rp900 per saham, tetapi itu masih 1.664,7% di atas harga awal tahun ini. Bagi kebanyakan orang, kenaikan harga setinggi itu mencengangkan. Tetapi itulah BEJ, penuh dengan anomali. ATPK hanya salah satu diantaranya.***