Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 September 2011

Adakah Pasar untuk (Ide) Bisnis Anda?


Fakta berikut memang dapat menyiutkan nyali calon wirausahawan: sebagian besar bisnis baru  gagal dalam lima tahun pertama. Banyak alasan mengapa sebuah bisnis bangkrut. Kegagalan itu tidak selalu  berkaitan dengan keterampilan pemiliknya mengelola bisnis. Sebuah perusahaan baru dapat runtuh hanya karena tidak mendapatkan cukup pelanggan yang membeli produk atau layanannya. Strategi "membangun bisnis dan pelanggan akan datang" sering tak berjalan mulus karena pelanggan tidak pernah datang. Penelitian terbaru Blackbox menemukan, start-up atau perusahaan baru di bidang teknologi banyak yang gagal karena mereka lebih terfokus pada produk daripada pelanggan potensialnya.

Namun jangan berkecil hati. Sebagai wirausahawan, Anda dapat melakukan beberapa riset pasar untuk menilai potensi permintaan atas produk atau jasa perusahaan Anda tanpa menghabiskan banyak uang atau menyewa tim riset pasar mahal.


Ajukan Pertanyaan yang Tepat 


Langkah pertama untuk menilai potensi pasar produk atau jasa baru yang hendak Anda perkenalkan ke pasar, menurut Victor Kwegyir, seorang konsultan bisnis, pembicara motivasi bisnis dan penulis buku The Business You Can Start: Spotting the Greatest Opportunities in the Economic Downturn, ajukan beberapa pertanyaan kepada diri Anda lebih dulu. Beberapa pertanyaan adalah:
  • Apakah produk atau jasa ini dapat memenuhi kebutuhan pasar?
  • Siapa pelanggan potensial saya dan di mana mereka bisa ditemukan?
  • Bagaimana persaingan di luar sana? Apakah langsung atau tidak langsung, lokal, nasional, atau internasional?
  • Bagaimana membedakan produk saya dari yang telah ditawarkan oleh pesaing?
  • Dapatkah produk ini bertahan menghadapi ujian perubahan tren dan menghasilkan keuntungan sebelum fasenya berakhir?
  • Pada harga berapa konsumen siap membayar untuk  produk saya dan apakah saya mendapatkan keuntungan dari harga tersebut?
Artikel lengkap tentang topik di atas dapat Anda di Majalah Inc.

Senin, 12 Oktober 2009

Kepemimpinan ala Toyotomi Hideyoshi


Judul: The Swordless Samurai-Pemimpin Legendaris Jepang Abad XVI
Penulis: Kitami Masao dan Tim Clark (Editor)
Penerbit: RedLine Publishing, Jakarta
Tebal: 262 halaman
Tahun: 2009


“Hideyoshi adalah pemimpin yang menakjubkan – dan paling luar biasa – dalam sejarah Jepang.” Itu kalimat pembuka Tim Clark, editor edisi Inggris The Swordless Samurai: Leadership Wisdom of Japan’s Sixteenth Century Legend dalam pengantar buku yang aslinya ditulis dalam bahasa Jepang oleh Kitami Masao.

Siapa Hideyoshi? Bagi saya, mungkin juga bagi banyak pembaca, nama Hideyoshi tidak sepopuler Musashi, salah seorang jagoan pedang Jepang. Terus terang saya baru tahu nama itu setelah membaca buku The Swordless Samurai. Akan tetapi setelah membacanya, menurut saya, klaim Tim Clark tidak berlebihan. Hideyoshi – meneruskan visi majikannya, Lord Nobunaga yang tewas di tangan “letnannya” -- adalah “samurai” yang berhasil menyatukan Jepang di bawah satu pemerintahan setelah hampir sepanjang abad ke-16 dikoyak perang antar klan. Pada 1585 ia dinobatkan menjadi kampaku atau wakil kaisar, jabatan tertinggi setelah Kaisar Jepang dan oleh Kaisar dianugerahi nama keluarga Toyotomi.

Dalam struktur masyarakat feodal Jepang yang sangat mengagungkan kelompok samurai, Hideyoshi memang bukan siapa-siapa. Dilahirkan pada 1536 di Nakamura, Provinsi Owari, Hideyoshi tidak punya kelebihan apa-apa. Ayahnya seorang petani yang lalu menjadi prajurit rendahan pada klan Oda dan setelah bertempur di beberapa medan perang berakhir cacat. Ia telah yatim ketika berusia tujuh tahun. Sepeninggal ayahnya, sang ibu menikah lagi, juga dengan seorang petani. Akan tetapi itu tidak membawa perubahan apa-apa pada keluarga tersebut. Mereka bekerja keras untuk sekedar bertahan hidup.

Hideyoshi tumbuh menjadi remaja bengal yang benci sekolah. Bahkan pendeta Budha pun tidak sanggup “menjinakkannya” setelah dikeluarkan dari sekolah dan oleh ibunya dititipkan di sebuah kuil untuk diajari disiplin.

Hideyoshi, seperti diakuinya, juga tidak menarik secara fisik. Tubuhnya kerempeng, tinggi badan hanya kurang lebih 150 cm, kepala besar dengan daun telinga lebar berkibar. Dengan fisik seperti itu, Hideyoshi sadar mustahil menjadi samurai hebat. Dalam perkelahian jalanan, kata Hideyoshi, “Seorang ronin (samurai tanpa majikan-BA) kelas tiga pun sanggup mengalahkan saya dengan cepat.”

Akan tetapi Hideyoshi tidak pernah meratapi kekurangannya itu. Ia menyadari punya kelebihan lain: kecerdikan serta antusiasme yang besar. “Aku harus lebih menggunakan kecerdikan daripada tubuh, khususnya jika aku ingin kepalaku tetap menempel di leher,” katanya.

Gaya dan kebijakan kepemimpinan Sang Swordless Samurai boleh jadi sudah pernah kita baca di berbagai buku kepemimpinan. Akan tetapi pesan-pesan kepemimpinan Hideyoshi bukan sekadar teori. Kebijakan itu lahir dari praktek, berdasarkan pengalaman hidup seorang anak petani miskin yang tidak berhak menyandang nama keluarga hingga naik ke puncak hirarki yang bisa dicapai seorang yang tidak terlahir sebagai kaisar: kampaku.

“Kalau kau memulai perjalananmu tanpa apa-apa, seperti yang kualami, peluang terbaikmu untuk maju adalah dengan mencari pemimpin yang luar biasa untuk dilayani.” Itu salah satu kebijakan Hideyoshi.

Setelah dipecat oleh keluarga Matsushita – majikan pertamanya – karena difitnah mencuri oleh para pembantu di keluarga tersebut, Hideyohsi tidak langsung mencari majikan baru. Ia meneliti sejumlah klan yang akan diabdinya. Ia akhirnya menetapkan untuk mengabdi dan melayani Klan Oda yang ketika itu dipimpin oleh Nobunaga. Walau tak punya apa-apa dan bukan-bukan siapa-siapa, Hideyoshi yang memutuskan pilihan. Dia tidak pasrah menyerahkan pada nasibya seperti pada majikan pertamanya.

Kendati baru berusia 21 tahun ketika itu, dimata Hideyoshi, Nobunaga adalah seorang pemimpin klan yang visioner. Dia tidak hanya handal bertarung dan memimpin peperangan, tetapi juga punya impian besar melampaui wilayah kekuasaannya: menyatukan Jepang di bawah satu pemerintahan. Hideyoshi menyukai visi itu. Masalahnya, bagaimana dia bisa meyakinkan Nobunaga bahwa dirinya bisa bermanfaat dan memberikan nikai tambah bagi klan itu. Hideyoshi tidak punya kualifikasi dalam derajat dan garis keturunan keluarga serta reputasi sebagai “jago pedang” untuk diajukan kepada Nobunaga.

Akan tetapi Hideyoshi akhirnya memutuskan Nobunaga harus menjadi mentornya. Pada musim panas 1554 di daerah pinggiran Provinsi Owari, Hideyoshi sedang berjongkok di balik semak, di seberang gerbang raksasa rumah seorang bangsawan yang hendak dikunjungi oleh Nobunaga. Begitu Nobunaga mendekat ke gerbang, Hideyoshi melompat keluar dari persembunyiannya, membungkuk rendah di jalanan sehingga alisnya nyaris menyentuh tanah, lalu berteriak, “Lord Nobunaga, saya hendak mengabdi kepada Anda.” Baso Amir (bersambung)

Selasa, 30 Juni 2009

Kisah 1.000 Eksekutor

Oleh Baso Amir

Seribu orang dibariskan di lapangan rumput oleh seorang panglima perang yang zalim. Sebagian besar orang tersebut tidak bersalah. Di hadapan mereka berjajar pula 1.000 eksekutor, masing-masing dengan senapan sudah terkokang di tangan. Seribu penembak itu bersiap mengeksekusi orang-orang di hadapannya. Akan tetapi, hanya tiga (3) dari 1.000 senapan eksekutor itu yang berisi peluru tajam, selebihnya cuma berisi peluru hampa. Berapa orang yang mesti menggunakan rompi tahan peluru agar tiga dari 1.000 orang tak bersalah itu tidak mati tertembak?

Jika menjawab seluruhnya, maka Anda benar! Ya seluruh, 1.000 orang itu harus menggunakan rompi tahan peluru. Mengapa? Baik penembak maupun target penembakan, tidak tahu senapan mana yang berisi peluru tajam. Para penembak menerima senapan yang sudah terkokang dan diisi peluru oleh pihak lain. Jadi, untuk menghindari risiko tertembak, semua target harus membeli dan menggunakan rompi tahan peluru.

Begitu sebenarnya prinsip dan sistem kerja asuransi jiwa. Polis asuransi jiwa bagaikan rompi tahan peluru yang harus selalu dikenakan. Sebab dalam menjalani hidup, kita selalu berhadapan dengan regu penembak. Masalahnya, kita tidak tahu kapan mereka menembak dan tidak dapat memastikan apakah kita sedang berhadapan dengan penembak dengan peluru tajam atau peluru hampa.

Akan tetapi betapa sering ketidakmampuan membedakan penembak berpeluru tajam dan peluru hampa dijadikan alasan untuk menolak (tepatnya mengusir) seorang agen asuransi jiwa yang menelepon atau mengetuk pintu kita. ”Untuk apa saya membeli polis asuransi jiwa, saya sehat-sehat saja kok,” itu salah satu alasan yang sering kita dengar.

”Selama ini saya tidak pernah sakit, tekanan darah dan kolesterol saya di bawah normal, ayah dan ibu saya bukan penderita diabetes” begitu alasan lainnya. Kita selalu melihat dengan curiga agen asuransi dan beranggapan mereka hendak “mencuri” uang yang dengan susah payah dikumpulkan jika membeli polis darinya. ”Iya, kalau saya meninggal atau sakit. Bagaimana jika hingga akhir masa asuransi saya tetap hidup dan sehat. Uang saya hilang dong!”

Alasan-alasan di atas wajar dan sepintas benar. “Toh yang sakit bukan saya kan?” Akan tetapi begitu kita sadar bahwa senapan eksekutor di hadapan kita berisi peluru tajam, kita tergopoh-gopoh hendak membeli rompi anti peluru dan mengenakannya. Sayangnya, ketika kesadaran itu menyergap, kita sudah terlambat. “Coba ya saya ikuti saranmu dulu?” begitu seorang ibu rumahtangga lewat telepon kepada seorang agen asuransi yang berbulan-bulan berusaha meyakinkannya untuk membeli polis asuransi jiwa buat suaminya. Sayangnya, telepon bernada sesal dilakukan ketika sang suami sudah terbaring di ruang gawat darurat rumah sakit dengan diagnosis tumor otak.

Anda bisa mengatakan, ”Ah cerita di atas terlalu didramatisir!” Anda benar, tetapi bukan karena didramatisir, cerita seperti itu memang dramatis adanya. Apa yang tidak dramatis dari seseorang lelaki pengusaha yang segar-bugar di pagi hari ketika pamit berangkat kerja lalu sore hari terbaring tak berdaya di ruang ICU rumah sakit karena stroke? Pengusaha itu punya kekayaan (aset) yang telah bertahun-tahun dikumpulkannya untuk membiayai penyakitnya. Penyakit itu paling tidak akan mengurangi jumlah asetnya. Lalu, bagaimana jika belum sempat mengumpulkan aset yang cukup untuk membiayai penyembuhan penyakit tersebut? Bagaimana kalau tabungan sebesar 50% dari gaji kita baru berjalan tiga bulan tetapi dokter sudah mengatakan Anda harus membayar Rp250 juta untuk penyakit kita?

Hal-hal seperti itulah yang mesti diantisipasi. Walau kita mampu membayar biaya rumah sakit, toh lebih bagus jika ada pihak lain yang membayar biaya tersebut sehingga tidak perlu mengurangi nilai aset kita. Selain itu, penyakit tidak pernah memilah-milah usia. Ia bisa datang kapan saja. Kecelakaan juga bisa terjadi bahkan ketika kita sedang nonton TV di rumah. Jadi, tidak ada salahnya jika memiliki rompi anti peluru sebelum seorang eksekutor berdiri di hadapan kita. Biayanya akan jauh lebih murah. Apalagi sekarang ini, perusahaan asuransi jiwa semakin kreatif dan inovatif. Jika dulu kita masih dapat berkilah, “Jika tidak sakit hingga akhir masa asuransi uang saya hilang dong?” maka sekarang tidak lagi. Perusahaan asuransi telah menyiapkan produk yang menggabungkan proteksi, tabungan dan investasi sekaligus dalam satu polis.

AJB Bumiputera 1912, sebagai perusahaan asuransi tertua dan terbesar di Indonesia misalnya, telah menyediakan produk asuransi jiwa Mitra Melati dan Mitra Sehat. Dengan Mitra Melati, sebagai pemegang polis, kita akan mendapatkan proteksi karena meninggal dunia, tabungan serta investasi yang kembaliannya (return) bisa mencapai 4,5% per tahun. Adapun Mitra Sehat, Anda mendapatkan jaminan santunan meninggal dunia, jaminan perawatan di rumah sakit, sekaligus perolehan hasil investasi yang kompetitif.

Jadi, tunggu apalagi. Dengan produk seperti Mitra Melati dan Mitra Sehat AJB Bumiputera 1912, jika Tuhan YME mengaruniai usia panjang dan tetap segar bugar hingga masa akhir polis, Anda tetap memiliki uang yang telah digunakan membayar premi.

Belilah “rompi tahan peluru” Anda sekarang dan kenakanlah. Sebab, Anda tidak pernah tahu dengan pasti apa yang bakal dihadapi di hari-hari mendatang. Anda tidak akan pernah apakah bedil eksekutor di hadapan Anda berisi peluru hampa atau peluru tajam!

* Kolom ini disertakan dalam sayembara penulisan esai AJB Bumiputera 1912.

Kamis, 08 Mei 2008

Filosofi Steve Job

Pengantar: Cepi Husada, teman sekaligus upline saya di bisnis networking Kamis (8/5/2008) ini mengirimkan email terjemahan pidato Steve Job, pendiri Apple Inc., dan perusahaan animasi Pixar, di hadapan wisudawan Stanford University, AS. Ini memang sudah lama karena acara itu diselenggarakan pada 12 Juni 2006. Tetapi setelah saya baca kembali, menurut saya, apa yang disampaikan oleh CEO Apple dan Pixar itu tetap relevan. Itu sebabnya, saya posting di sini. Selamat menikmati!

**

Stay Hungry. Stay Foolish”

Saya merasa bangga di tengah-tengah Anda sekarang, yang akan segera lulus dari salah satu universitas terbaik di dunia. Saya tidak pernah selesai kuliah. Sejujurnya, baru saat inilah saya merasakan suasana wisuda. Hari ini saya akan menyampaikan tiga cerita pengalaman hidup saya. Ya, tidak perlu banyak. Cukup tiga.

Cerita Pertama: Menghubungkan Titik-Titik

Saya drop out (DO) dari Reed College setelah semester pertama, namun saya tetap berkutat di situ sampai 18 bulan kemudian, sebelum betul-betul putus kuliah. Mengapa saya DO? Kisahnya dimulai sebelum saya lahir. Ibu kandung saya adalah mahasiswi belia yang hamil karena “kecelakaan” dan memberikan saya kepada seseorang untuk diadopsi.

Dia bertekad bahwa saya harus diadopsi oleh keluarga sarjana, maka saya pun diperjanjikan untuk dipungut anak semenjak lahir oleh seorang pengacara dan istrinya. Sialnya, begitu saya lahir, tiba-tiba mereka berubah pikiran karena ingin bayi perempuan. Maka orang tua saya sekarang, yang ada di daftar urut berikutnya, mendapatkan telepon larut malam dari seseorang: “Kami punya bayi laki-laki yang batal dipungut, apakah Anda berminat?

Mereka menjawab:“Tentu saja.”

Ibu kandung saya lalu mengetahui bahwa ibu angkat saya tidak pernah lulus kuliah dan ayah angkat saya bahkan tidak tamat SMA. Dia menolak menandatangani perjanjian adopsi. Sikapnya baru melunak beberapa bulan kemudian, setelah orang tua saya berjanji akan menyekolahkan saya sampai perguruan tinggi.

Dan, 17 tahun kemudian saya betul-betul kuliah. Namun, dengan naifnya saya memilih universitas yang hampir sama mahalnya dengan Stanford, sehingga seluruh tabungan orang tua saya- yang hanya pegawai rendahan-habis untuk biaya kuliah. Setelah enam bulan, saya tidak melihat manfaatnya. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan dalam hidup saya dan bagaimana kuliah akan membantu saya menemukannya. Saya sudah menghabiskan seluruh tabungan yang dikumpulkan orang tua saya seumur hidup mereka. Maka, saya pun memutuskan berhenti kuliah, yakin bahwa itu yang terbaik.

Saat itu rasanya menakutkan, namun sekarang saya menganggapnya sebagai keputusan terbaik yang pernah saya ambil. Begitu DO, saya langsung berhenti mengambil kelas wajib yang tidak saya minati dan mulai mengikuti perkuliahan yang saya sukai. Masa-masa itu tidak selalu menyenangkan. Saya tidak punya kamar kos sehingga nebeng tidur di lantai kamar teman-teman saya. Saya mengembalikan botol Coca-Cola agar dapat pengembalian 5 sen untuk membeli makanan. Saya berjalan 7 mil melintasi kota setiap Minggu malam untuk mendapat makanan enak di biara Hare Krishna. Saya menikmatinya. Dan banyak yang saya temui saat itu karena mengikuti rasa ingin tahu dan intuisi, ternyata kemudian sangat berharga.

Saya beri Anda satu contoh:

Reed College mungkin waktu itu adalah yang terbaik di AS dalam hal kaligrafi. Di seluruh penjuru kampus, setiap poster, label, dan petunjuk ditulis tangan dengan sangat indahnya. Karena sudah DO, saya tidak harus mengikuti perkuliahan normal. Saya memutuskan mengikuti kelas kaligrafi guna mempelajarinya. Saya belajar jenis-jenis huruf serif dan san serif, membuat variasi spasi antar kombinasi kata dan kiat membuat tipografi yang hebat. Semua itu merupakan kombinasi cita rasa keindahan, sejarah dan seni yang tidak dapat ditangkap melalui sains. Sangat menakjubkan.

Saat itu sama sekali tidak terlihat manfaat kaligrafi bagi kehidupan saya. Namun sepuluh tahun kemudian, ketika kami mendisain komputer Macintosh yang pertama, ilmu itu sangat bermanfaat. Mac adalah komputer pertama yang bertipografi cantik. Seandainya saya tidak DO dan mengambil kelas kaligrafi, Mac tidak akan memiliki sedemikian banyak huruf yang beragam bentuk dan proporsinya. Dan karena Windows menjiplak Mac, maka tidak ada PC yang seperti itu.

Andaikata saya tidak DO, saya tidak berkesempatan mengambil kelas kaligrafi, dan PC tidak memiliki tipografi yang indah. Tentu saja, tidak mungkin merangkai cerita seperti itu sewaktu saya masih kuliah. Namun, sepuluh tahun kemudian segala sesuatunya menjadi gamblang. Sekali lagi, Anda tidak akan dapat merangkai titik dengan melihat ke depan; Anda hanya bisa melakukannya dengan merenung ke belakang. Jadi, Anda harus percaya bahwa titik-titik Anda bagaimana pun akan terangkai di masa mendatang. Anda harus percaya dengan intuisi, takdir, jalan hidup, karma Anda, atau istilah apa pun lainnya. Pendekatan ini efektif dan membuat banyak perbedaan dalam kehidupan saya.

Cerita Kedua Saya: Cinta dan Kehilangan

Saya beruntung karena tahu apa yang saya sukai sejak masih muda. Woz dan saya mengawali Apple di garasi orang tua saya ketika saya berumur 20 tahun. Kami bekerja keras dan dalam 10 tahun Apple berkembang dari hanya kami berdua menjadi perusahaan 2 milyar dolar AS dengan 4.000 karyawan. Kami baru meluncurkan produk terbaik kami-Macintosh- satu tahun sebelumnya, dan saya baru menginjak usia 30. Dan saya dipecat.

Bagaimana mungkin Anda dipecat oleh perusahaan yang Anda dirikan? Yah, itulah yang terjadi. Seiring pertumbuhan Apple, kami merekrut orang yang saya pikir sangat berkompeten untuk menjalankan perusahaan bersama saya. Dalam satu tahun pertama, semua berjalan lancar.

Namun, kemudian muncul perbedaan dalam visi kami mengenai masa depan dan kami sulit disatukan. Komisaris ternyata berpihak padanya. Demikianlah, di usia 30 saya tertendang. Beritanya ada di mana-mana. Apa yang menjadi fokus sepanjang masa dewasa saya, tiba-tiba sirna. Sungguh menyakitkan.

Dalam beberapa bulan kemudian, saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Saya merasa telah mengecewakan banyak wirausahawan generasi sebelumnya -saya gagal mengambil kesempatan. Saya bertemu dengan David Packard dan Bob Noyce dan meminta maaf atas keterpurukan saya. Saya menjadi tokoh publik yang gagal, dan bahkan berpikir untuk lari dari Silicon Valley.

Namun, sedikit demi sedikit semangat timbul kembali- saya masih menyukai pekerjaan saya. Apa yang terjadi di Apple sedikit pun tidak mengubah saya. Saya telah ditolak, namun saya tetap cinta. Maka, saya putuskan untuk mulai lagi dari awal. Waktu itu saya tidak melihatnya, namun belakangan baru saya sadari bahwa dipecat dari Apple adalah kejadian terbaik yang menimpa saya. Beban berat sebagai orang sukses tergantikan oleh keleluasaan sebagai pemula, segala sesuatunya lebih tidak jelas. Hal itu mengantarkan saya pada periode paling kreatif dalam hidup saya.

Dalam lima tahun berikutnya, saya mendirikan perusahaan bernama NeXT, lalu Pixar, dan jatuh cinta dengan wanita istimewa yang kemudian menjadi istri saya. Pixar bertumbuh menjadi perusahaan yang menciptakan film animasi komputer pertama, Toy Story, dan sekarang merupakan studio animasi paling sukses di dunia.

Melalui rangkaian peristiwa yang menakjubkan, Apple membeli NeXT, dan saya kembali lagi ke Apple, dan teknologi yang kami kembangkan di NeXT menjadi jantung bagi kebangkitan kembali Apple. Dan, Laurene dan saya memiliki keluarga yang luar biasa.

Saya yakin takdir di atas tidak terjadi bila saya tidak dipecat dari Apple. Obatnya memang pahit, namun sebagai pasien saya memerlukannya. Kadangkala kehidupan menimpakan batu ke kepala Anda. Jangan kehilangan kepercayaan. Saya yakin bahwa satu-satunya yang membuat saya terus berusaha adalah karena saya menyukai apa yang saya lakukan.

Anda harus menemukan apa yang Anda sukai. Itu berlaku baik untuk pekerjaan maupun pasangan hidup Anda. Pekerjaan Anda akan menghabiskan sebagian besar hidup Anda, dan kepuasan sejati hanya dapat diraih dengan mengerjakan sesuatu yang hebat. Dan Anda hanya bisa hebat bila mengerjakan apa yang Anda sukai. Bila Anda belum menemukannya, teruslah mencari. Jangan menyerah. Hati Anda akan mengatakan bila Anda telah menemukannya. Sebagaimana halnya dengan hubungan hebat lainnya, semakin lama-semakin mesra Anda dengannya. Jadi, teruslah mencari sampai ketemu. Jangan berhenti.

Cerita Ketiga Saya: Kematian

Ketika saya berumur 17, saya membaca ungkapan yang kurang lebih berbunyi: “Bila kamu menjalani hidup seolah-olah hari itu adalah hari terakhirmu, maka suatu hari kamu akan benar.”

Ungkapan itu membekas dalam diri saya, dan semenjak saat itu, selama 33 tahun terakhir, saya selalu melihat ke cermin setiap pagi dan bertanya kepada diri sendiri: “Bila ini adalah hari terakhir saya, apakah saya tetap melakukan apa yang akan saya lakukan hari ini?” Bila jawabannya selalu “tidak” dalam beberapa hari berturut-turut, saya tahu saya harus berubah.

Mengingat bahwa saya akan segera mati adalah kiat penting yang saya temukan untuk membantu membuat keputusan besar. Karena hampir segala sesuatu-semua harapan eksternal, kebanggaan, takut malu atau gagal-tidak lagi bermanfaat saat menghadapi kematian. Hanya yang hakiki yang tetap ada. Mengingat kematian adalah cara terbaik yang saya tahu untuk menghindari jebakan berpikir bahwa Anda akan kehilangan sesuatu. Anda tidak memiliki apa-apa. Sama sekali tidak ada alasan untuk tidak mengikuti kata hati Anda.

Sekitar setahun yang lalu saya didiagnosis mengidap kanker. Saya menjalani scan pukul 7:30 pagi dan hasilnya jelas menunjukkan saya memiliki tumor pankreas. Saya bahkan tidak tahu apa itu pankreas. Para dokter mengatakan kepada saya bahwa hampir pasti jenisnya adalah yang tidak dapat diobati. Harapan hidup saya tidak lebih dari 3-6 bulan. Dokter menyarankan saya pulang ke rumah dan membereskan segala sesuatunya, yang merupakan sinyal dokter agar saya bersiap mati.

Artinya, Anda harus menyampaikan kepada anak Anda dalam beberapa menit segala hal yang Anda rencanakan dalam sepuluh tahun mendatang. Artinya, memastikan bahwa segalanya diatur agar mudah bagi keluarga Anda. Artinya, Anda harus mengucapkan selamat tinggal. Sepanjang hari itu saya menjalani hidup berdasarkan diagnosis tersebut. Malam harinya, mereka memasukkan endoskopi ke tenggorokan, lalu ke perut dan lambung, memasukkan jarum ke pankreas saya dan mengambil beberapa sel tumor. Saya dibius, namun istri saya, yang ada di sana, mengatakan bahwa ketika melihat selnya di bawah mikroskop, para dokter menangis mengetahui bahwa jenisnya adalah kanker pankreas yang sangat jarang, namun bisa diatasi dengan operasi. Saya dioperasi dan sehat sampai sekarang. Itu adalah rekor terdekat saya dengan kematian dan berharap terus begitu hingga beberapa dekade lagi.

Setelah melalui pengalaman tersebut, sekarang saya bisa katakan dengan yakin kepada Anda bahwa menurut konsep pikiran, kematian adalah hal yang berguna:Tidak ada orang yang ingin mati. Bahkan orang yang ingin masuk surga pun tidak ingin mati dulu untuk mencapainya. Namun, kematian pasti menghampiri kita. Tidak ada yang bisa mengelak. Dan, memang harus demikian, karena kematian adalah buah terbaik dari kehidupan. Kematian membuat hidup berputar. Dengannya maka yang tua menyingkir untuk digantikan yang muda. Maaf bila terlalu dramatis menyampaikannya, namun memang begitu.

Waktu Anda terbatas, jadi jangan sia-siakan dengan menjalani hidup orang lain. Jangan terperangkap dengan dogma-yaitu hidup bersandar pada hasil pemikiran orang lain. Jangan biarkan omongan orang menulikan Anda sehingga tidak mendengar kata hati Anda. Dan yang terpenting, miliki keberanian untuk mengikuti kata hati dan intuisi Anda, maka Anda pun akan sampai pada apa yang Anda inginkan. Semua hal lainnya hanya nomor dua.

Ketika saya masih muda, ada satu penerbitan hebat yang bernama “The Whole Earth Catalog“, yang menjadi salah satu buku pintar generasi saya. Buku itu diciptakan oleh seorang bernama Stewart Brand yang tinggal tidak jauh dari sini di Menlo Park, dan dia membuatnya sedemikian menarik dengan sentuhan puitisnya. Waktu itu akhir 1960-an, sebelum era komputer dan desktop publishing, jadi semuanya dibuat dengan mesin tik, gunting, dan kamera polaroid. Mungkin seperti Google dalam bentuk kertas, 35 tahun sebelum kelahiran Google: isinya padat dengan tips-tips ideal dan ungkapan-ungkapan hebat. Stewart dan timnya sempat menerbitkan beberapa edisi “The Whole Earth Catalog”, dan ketika mencapai titik ajalnya, mereka membuat edisi terakhir. Saat itu pertengahan 1970-an dan saya masih seusia Anda. Di sampul belakang edisi terakhir itu ada satu foto jalan pedesaan di pagi hari, jenis yang mungkin Anda lalui jika suka bertualang. Di bawahnya ada kata-kata: “Stay Hungry. Stay Foolish.” (Jangan Pernah Puas. SelaluMerasa Bodoh). Itulah pesan perpisahan yang dibubuhi tanda tangan mereka.

Stay Hungry. Stay Foolish. Saya selalu mengharapkan diri saya begitu. Dan sekarang, karena Anda akan lulus untuk memulai kehidupan baru, saya harapkan Anda juga begitu. Stay Hungry. Stay Foolish. (Diterjemahkan oleh Dewi Sri Takarini, alumni sebuah perguruan tinggi di Australia).

Senin, 15 Oktober 2007

Bapak Tukang Ojek Sepeda

29 Ramadhan 1428H/11 Oktober 2007. Dalam perjalanan pulang dari kantor, saya mendengarkan acara Ida Harimurti Show di Radio Delta FM. Narasumbernya bernama Hotman Siregar (tidak tahu siapa dia karena saya masuk di tengah acara). Saya masuk ketika dia sedang menceritakan kisah seorang tukang ojek sepeda.

Menurut Hotman, seorang mahasiswanya (saya menduga dia seorang dosen) ingin bersedekah dengan langsung mendatangi seseorang yang dianggapnya miskin (harta). Oh ya, konteks cerita ini muncul karena sebelumnya Ida Harimurti dan Hotman membahas tentang prilaku beberapa orang kaya harta (saya juga sempat melihat di beberapa siaran berita TV), yang membagi-bagikan sedekah kepada fakir-miskin dengan mengundang mereka ke rumahnya. Akibatnya, fakir miskin (yang benaran dan yang hanya pura-pura miskin) beramai-ramai ke rumah orang kaya itu untuk mendapatkan amplop berisi Rp20.000 per orang. Tetapi, karena mereka datang secara bersamaan, maka terjadi antrian dan desak-desakan yang menyebabkan banyak orang yang jatuh pingsan dan harus dibawa ke rumah sakit.

“Apa orang kaya itu sudah tidak percaya lembaga amil zakat sehingga harus membagikan sendiri sedekahnya yang menyebabkan jatuh korban?” tanya Hotman dengan nada tinggi. “Padahal yang diperoleh hanyaRp20.000. Ini sangat tidak seimbang dengan pengorbanan dan risiko fakir miskin itu. Mengapa mereka tidak langsung mendatangi fakir miskin tersebut di tempatnya, yang boleh jadi ada di tembok belakang rumahnya?

Dari situlah dia menceritakan mahasiswanya tadi. Nah, sang mahasiswa ini ingin bersedekah. Ia mendatangi seorang Tukang Ojek Sepeda di Tanjung Priok, Jakarta Utara. Dia sengaja mendatangi tukang ojek sepeda karena mahasiswa tadi beranggapan bahwa tukang ojek sepeda lebih miskin dari seorang tukang ojek sepeda motor.

“Pak, hari ini Bapak tidak usah narik. Saya akan menutup penghasilan Bapak hari ini,” kata mahasiswa tersebut kepada tukang ojek sepeda itu. Selain diberi uang lebih dari jumlah penghasilan hariannya, tukang ojek sepeda ini juga diajak ke restoran di sebuah hotel berbintang untuk berbuka puasa.

Begitu mau masuk restoran, sontak si tukang ojek sepeda melepas sandalnya. Ketika disampaikan bahwa ini bukan rumah, dia tidak perlu melepas sandalnya, sang tukang ojek sepeda menjawab, “Kasian sama orang yang bertugas membersihkan tempat ini, sandal saya kotor. Tidak apalah saya melepasnya.”

“Saya belajar banyak dari tukang ojek sepeda itu,” kata Hotman. Ini menunjukkan, demikian Hotman, betapa tukang ojek ini sangat menghargai orang lain. Suatu sikap yang diperintahkan oleh semua ajaran agama. Jadi, tukang ojek ini sebenarnya sudah menjalankan agama, walau boleh jadi dia tidak pernha tahu ayat-ayat tentang hal tersebut.

Di dalam restoran, sang tukang ojek disodori menu makanan dan minuman. Ada beragam juice dan minuman lainnya. Tapi, tukang ojek sepeda ini hanya memilih memesan secangkir kopi susu.

“Mengapa secangkir kopi susu. Pilih yang lain, Pak. Tidak perlu khawatir, duitnya ada!” kata sang mahasiswa yang mengajak tukang ojek sepeda ke restoran di hotel itu. Dari seluruh minuman di restoran, secangkir kopi susulah yang paling murah.

“Saya pilih kopi susu saja, karena saya sudah limas belas tahun tidak pernah minum kopi susu!”

Sang mahasiswa tersentak kaget. Masa Allah, 15 tahun tidak pernah menikmati secangkir kopi susu. Dia lalu membiarkan Bapak Tukang Ojek Sepeda itu memesan secangkir kopi susu.

Secangkir kopi susu datang. Sang Tukang Ojek Sepeda memejamkan mata sejenak ketika menghirup aroma kopi tersebut. Ia lalu menikmati kopinya. Dia menikmatinya teguk demi teguk. Dia mengulum dulu agak lama kopi tersebut di mulutnya sebelum menelannya. Dia menikmati kopi hingga benar-benar tandas, tidak tersisa setetes pun.

Hal itu merupakan pemandangan menakjubkan bagi mahasiswa tersebut. Ia seolah melihat bagaimana kopi itu melewati kerongkongan Bapak Tukang Ojek Sepeda itu, tetes demi tetes.

Melihat itu, sang mahasiswa memanggil pelayan dan memesan secangkir kopi susu lagi untuk Bapak Tukang Ojek Sepeda itu. Tetapi, Bapak itu menolak. “Cukup secangkir ini saja,” katanya. Cangkir pertama ini rahmat, tetapi cangkir kedua sudah mudharat, karena sudah berlebih-berlebihan.

Hotman mengaku tersentak mendengar pengakuan Bapak Tukang Ojek Sepeda yang sudah 15 tahun tidak pernah menyeruput kopi susu itu.

Terus terang, saya juga tersentak dan menangis di dalam hati mendengar cerita itu. Betapa sering saya tidak bersyukur Ya Allah. Saya yang setiap hari ke tempat kerja dengan kendaraan pribadi masih sering bersungut-sungut karena hal-hal yang kadang sepele. Padahal, saya bisa menikmati secangkir kopi susu, kapan pun saya mau. Sementara Bapak Tukang Ojek Sepeda itu harus menunggu lima belas tahun untuk secangkir kopi susu.

Selain itu, Bapak Tukang Ojek Sepeda ini, bisa menahan diri hanya memesan secangkir kopi susu yang sudah lima belas tahun tidak pernah diseruputnya ketika ada kesempatan untuk menikmati minuman lain yang jauh lebih mewah, lebih mahal harganya dan (mungkin juga) lebih enak rasanya. Bahkan, bisa menahan diri untuk hanya meminum secangkir ketika ada kesempatan untuk menikmati lebih dari secangkir.

“Dara mana Bapak Tukang Ojek Sepeda itu belajar semua kebijaksanaan itu?” tanya Hotman kepada Ida Harimurti. “Dia menjalankan ajaran agama dengan baik walau boleh jadi ia tidak pernah membaca ayatnya.”

Jadi, kata Hotman, lihatlah sekeliling kita. Banyak orang seperti Bapak Tukang Ojek Sepeda itu. Dia punya harga diri. Mereka tidak akan pernah menadahkan tangannya meminta bantuan, padahal sesungguhnya mereka perlu kita bantu.”

Dan orang yang seperti itu boleh jadi ada di sekeliling kita.***

Rabu, 25 Juli 2007

Kisah Tiga Ekor Kucing

Tiga ekor kucing bermalas-malasan di atap sebuah rumah. Sembari menyaksikan matahari naik, mereka menjilati bulu-bulunya. Tidak berapa lama kemudian, salah seekor kucing tersebut MEMUTUSKAN turun dari atap. Pertanyaan sekarang, berapa ekor kucing yang tersisa di atap?

Jika Anda menjawab "DUA" maka keliru. Ternyata, jumlah kucing di atap tetap tiga. Mengapa?Memutuskan untuk turun dari atap dengan TURUN dari atap adalah dua hal berbeda.

Anekdot tiga ekor kucing di atap banyak terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Keputusan Presiden RI tentang penanganan lumpur Lapindo di Sidoarjo telah terbit, tetapi penduduk yang rumahnya tenggelam karena lumpur tetap tidak mendapatkan ganti rugi. Mengapa, karena memutuskan menyelesaikan lumpur Lapindo dan menyelesaikan perkara tersebut adalah dua hal berbeda.

Dalam banyak hal, kita hanya berhenti pada membuat keputusan tetapi tidak pernah benar-benar menjalankan keputusan tersebut. DPR terus-menerus membuat undang-undang, tetapi tidak pernah tahu apakah undang-undang tersebut dijalankan atau tidak? Presiden pun demikian, berbagai aturan dibuat, ada sejumlah paket kebijakan dan sebagainya, tetapi tidak semuanya dijalankan. Lebih konyol lagi, sering undang-undang belum dijalankan sudah keburu "DIRALAT" oleh Mahkamah Konstitusi (MK).

Memutuskan dan menjalankan suatu keputusan memang dua hal berbeda. Menjalankan jauh lebih sulit ketimbang membuatnya.***

Selasa, 27 Juni 2006

Nur

20 Mei 2006. Siaran berita sore TVG. Kamera menyorot pembongkaran “rumah liar” di suatu tempat di Tangerang. Menggunakan tambang plastik, sejumlah petugas Satpol PP Tangerang – sebagian dengan wajah tersenyum – beramai-ramai menarik rumah yang terbuat dari kayu itu hingga roboh dan rata dengan tanah.
Satu dua detik kemudian kamera menyorot close-up seorang wanita muda yang sedang hamil tua. Matanya yang berair menatap nanap tempat tinggalnya yang baru saja dihancurkan. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya ketika reporter TVG mengajukan pertanyaan kepadanya. Dia hanya menunjuk reruntuhan rumahnya dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya mengelus-ngelus perutnya. Mungkin ia ingin menenangkan bayi yang dikandungnya karena berontak menyaksikan “kezaliman” tersebut.
Dari footage di kiri bawah layar TV terbaca, nama perempuan muda yang sedang hamil tua itu Nur. Dia berasal dari Bogor. Dia berurai air mata karena tempat tinggalnya, yang dia kontrak dari seseorang, baru saja dihancurkan. Nur dan sejumlah penghuni “rumah liar” di Tangerang itu hanya pasrah ketika sejumlah petugas Satpol PP beraksi. Mungkin mereka sadar, melawan hanyalah kesia-siaan. “Nggak tahu mau pindah ke mana lagi,” kata salah seorang di antara korban penggusuran itu.
Dan Nur tidak sendirian. Pada acara yang sama di TVG disiarkan penggusuran pedagang kaki lima di Bekasi (Jawa Barat) dan di Kendari (Sulawesi Tenggara). Bahkan penggusuran di Kendari diiringi pengeroyokan seorang pedagang. Pelakunya sama, Satpol PP.
Kita juga sering membaca, penambang liar ditertibkan (artinya tidak boleh lagi menambang), peladang liar digusur, nelayan direlokasi ke darat karena pantai yang selama ini menghidupinya akan diurug dan dijadikan kawasan komersial.
Kemana Nur Cs setelah digusur? Tampaknya, pemerintah daerah (juga pemerintah pusat) yang diwakili oleh Satpol PP-nya tidak perlu menjawab pertanyaan tersebut. Itu bukan urusan pemerintah. Seperti dikemukakan oleh seorang komandan tramtib (ketentraman dan ketertiban) dari Jakarta Utara kepada stasiun TV yang lain, “Kami sudah beri surat peringatan tiga kali, tetapi karena tetap tidak dibongkar, ya kami tertibkan.” Dan “tertibkan” itu sama dengan pembongkaran secara paksa.
Pemerintah memang harus menegakkan peraturan dan undang-undang. Menempati tanah milik orang lain melanggar undang-undang dan meniadakan tertib hukum. Dampaknya sangat negatif. Salah satunya, mengutip para pejabat, ”Itu bisa mengurungkan niat para pemilik modal berinvestasi di negara kita.” Itu sebabnya Nur harus digusur karena tanah itu bukan miliknya. Rakyat penambang tidak boleh menggali emas atau batu bara karena areal itu telah menjadi konsesi perusahaan besar bahkan multinasional. Rakyat tidak boleh menebang pohon di hutan yang HPH-nya telah dipegang oleh cukong. Hebatnya, satu cukong bisa menguasai HPH jutaan hektar.
Secara hukum formal tidak yang ada salah mengusir Nur Cs dari tanah yang bukan miliknya. Masalahnya, Nur Cs, suka atau tidak, adalah warga bangsa ini yang kebetulan bernama Indonesia. Boleh jadi dia memang tidak punya KTP (Kartu Tanda Penduduk). Tetapi percayalah, kuburan nenek-moyang Nur di Bogor lebih dulu ada dari sistem per-KTP-an kita.
Lalu mengapa Nur dan banyak nur lainnya selalu terusir dan tergusur di negaranya sendiri? Jawabannya: karena mereka miskin dan papa. Jangankan untuk beli rumah, untuk makan sehari-hari saja susah. Nur sebenarnya ingin tinggal di rumah yang legal dan layak. Ia ingin melahirkan anaknya di bawah atap, bukan di kolong langit. Mereka tinggal di “rumah liar” karena tidak punya pilihan lain. Bahkan itu merupakan satu-satunya pilihan buatnya. Kini, satu-satunya pilihan itu, atas nama hukum dan ketertiban, telah rata dengan tanah, direnggukkan secara paksa oleh ”negara” yang seharusnya, berdasarkan kewajiban konstitusi, melindunginya.
Tampaknya, gegap-gempita pembangunan kita tidak menyentuh orang-orang seperti Nur. Indikator-indikator ekonomi yang mentereng, seperti pertumbuhan PDB (Produk Domestik Bruto), pertumbuhan APBN, peningkatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), penguatan nilai tukar rupiah, pertumbuhan cadangan devisa, peningkatan pendapatan per kapita dan berbagai indikator lainnya seolah tidak menyentuh Nur dan belasan juta warga miskin lainnya.
Sekali lagi, Nur tidak sendirian. Jumlah orang yang merasa terpinggirkan di tengah hiruk-pikuk proyek pembangunan jalan tol, jembatan, pusat perbelanjaan, bandar udara dan berbagai proyek fisik lainnya makin banyak. Makin banyak orang yang tidak mengerti mengapa penghasilan bulanannya hanya cukup untuk hidup selama seminggu di tengah peningkatan cadangan devisa negara dan uang beredar. Bahkan ada seorang tua yang pernah merasakan hidup di zaman penjajahan Jepang mengatakan, “Masih lebih mudah hidup di zaman Jepang daripada sekarang.”
Kepada siapa Nur harus mengadu? Adakah ia masih diakui sebagai warga bangsa ini. Jika ya, mengapa ia hanya kebagian digusur dalam era pembangunan ekonomi yang kita sudah selenggarakan secara masif selama kurang lebih 40 tahun belakangan ini? Pertanyaan ini harus kita jawab, sebab suatu saat Nur dan nur lainnya bisa lelah menjadi penonton pembangunan yang hanya kebagian digusur (Baso Amir).***

Minggu, 16 April 2006

Andai Telkom seperti Temasek


Seorang teman yang terkenal iseng dan suka membanding-bandingkan sesuatu mengajukan pertanyaan, “Apa persamaan Telkom dengan Temasek?”

Belum sempat saya jawab, dia mendahului: keduanya sama-sama BUMN (Badan Usaha Milik Negara). Telkom (maksudnya PT Telekomunikasi Indonesia Tbk) milik Indonesia, sementara Temasek Holdings Pte. Ltd. milik Singapura.

“Hanya itu?” tanyaku.

“Memang masih ada persamaan yang lain?”

“Ada,” jawabku, “Keduanya sama-sama sibuk.”

Teman saya terdiam. Dari kernyit keningnya saya menangkap kesan, dia merasa terjebak sendiri oleh teka-tekinya.

Temasek adalah perusahaan induk BUMN Singapura. Kesibukan Temasek beberapa tahun belakangan ini adalah membeli berbagai perusahaan di luar negeri. Di Indonesia, misalnya, Temasek – baik langsung maupun melalui anak perusahannya – menguasai Bank Danamon dan Bank Internasional Indonesia. Lalu, seperti ditulis detik Finance, Temasek akan menginvestasikan US$ 2 miliar di Bank of China tahun ini.

Bukan hanya itu, Temasek juga mendorong anak-anak usahanya untuk berkembang di luar Singapura. Ini mungkin karena teritori Singapura memang terbatas.

Singapore Telecommunications Limited atau SingTel adalah salah satu anak usaha Temasek. Padanan SingTel di Indonesia adalah PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom). Seperti induknya, SingTel juga sangat sibuk berbisnis di luar Singapura. Itu strategi pertumbuhan BUMN yang pada tahun buku berakhir Maret 2005 meraih laba bersih S$ 3,268 miliar (sekitar Rp 20 triliun) dari pendapatan sebesar S$ 12,617 miliar (sekitar Rp 77,3 triliun).

SingTel (juga Temasek) menyadari mustahil tumbuh jika hanya mengandalkan pasar dalam negerinya. Itu sebabnya mereka menyibukkan diri membangun bisnis di luar Singapura. Pada 2001, misalnya, SingTel mengakuisisi kepemilikan mayoritas di Optus, perusahaan penyedia layananan telekomunikasi seluler terintegrasi di Australia seharga A$ 14 miliar.

SingTel juga menyertakan saham di berbagai perusahaan telekomunikasi di sekitar 20 negara. Di Thailand, SingTel menguasai 21,4% saham Advanced Info Service (AIS). SingTel juga menyertakan investasi di APT Satelite Hong Kong (20,3%), Bharti Group India (30,7%), Globe Telecom Filipina (44,6%), New Century Infocomm Taiwan (24,5%), Pacific Bangladesh Telecom Banladesh (45%) dan Telkomsel Indonesia (35%).

Pada tahun buku yang berakhir Maret 2005, 67,9% dari pendapatan SingTel berasal dari operasi luar negeri. Dari investasi di perusahaan telekomunikasi di berbagai negara, SingTel memperoleh tambahan keuntungan sebesar S$1,26 miliar, itu sekitar 30,74% dari laba sebelum pajak dan bunga yang mencapai S$ 4,1 miliar.

“Lalu, apa kesibukan Telkom?” teman saya ternyata masih menyimak.

“Oh banyak,” kataku. Salah satunya, Telkom akan sibuk membeli kembali saham-sahamnya yang kini berada di tangan investor publik, baik domestik maupun asing. Pemegang saham Telkom menyetujui usulan direksi membeli kembali (buy back) 5% saham setor yang kini mencapai 20,16 miliar unit. Untuk itu disiapkan dana sebesar Rp 5,25 triliun.

Alasan buy back Telkom, seperti sering dikemukakan Dirut Telkom, Arwin Rasyid, karena rasio antara utang dan modal sendiri Telkom di bawah satu. Padahal umumnya perbankan – ingat Arwin adalah bankir -- menetapkan batasan rasio utang terhadap modal sebesar 2,5 kali. Karena itu, Telkom memiliki potensi yang sangat besar untuk mengurangi modal. Salah satu cara mengurangi modal antara lain melakukan buy back (Seputar Indonesia, 19 Agustus 2005).

Boleh dikatakan cara berpikir Arwin Rasyid sebagai nakhoda Telkom berbeda 360 derajat dengan kebanyakan pengusaha. Jika para pengusaha yang lain menambah utang untuk memperbesar kapasitas usahanya, maka Arwin justru menciutkan modalnya.

Menurut Arwin, di pasar yang sudah jenuh, cara yang paling populer mengurangi modal adalah membagikan dividen. Cara lain, melakukan ekspansi besar-besaran ke luar negeri, terutama untuk perusahaan yang memiliki banyak dana tetapi pasarnya sudah jenuh. Inilah yang dilakukan SingTel. Cara berikutnya, melakukan buy back saham publik.“

Begitulah, jika SingTel sibuk berinvestasi di luar negeri untuk menaikkan nilai perusahannya, maka Telkom sibuk di dalam negeri, bahkan boleh dikatakan sibuk di dalam perusahaanya sendiri dengan buy back saham. Mereka berharap, jika saham beredar dikurangi, harga saham akan meningkat dan itu berarti nilai kapitalisasi pasar (jumlah saham dikali harga saham) Telkom akan menggelembung pula. Pada saat yang sama, laba bersih per saham (laba bersih dibagi jumlah saham setor) akan meningkat karena jumlah pembagi akan berkurang. Sementara untuk peningkatan pendapatan, Telkom akan tetap mengandalkan bisnis yang sudah ada sekarang.

Telkom memang seolah-olah tidak lagi memerlukan dana untuk pengembangan bisnis. Padahal, biaya buy back sebesar Rp 5,25 triliun lumayan besar. Modal setor Telkom saja hanya Rp 5,04 triliun.

Mengapa dana lebih itu tidak digunakan Telkom untuk invetasi baru, misalnya membeli dan membangun perusahaan telekomunikasi di Vietnam atau di Timor Leste? Ah sudahlah, Telkom memang bukan Temasek kok?