Tampilkan postingan dengan label Investasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Investasi. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 Januari 2013

Saham Centrin Online bagai Naik “Roller Coaster”



Harga saham PT Centrin Online Tbk (CENT) bagaikan naik roller coaster. Penyedia layanan Internet yang berkantor pusat di Bandung, Jawa Barat ini tercatat sebagai emiten dengan kenaikan harga saham tertinggi sepanjang 2012. Ditutup pada Rp1.210 per saham pada 27 Desember,  berarti sepanjang 2012 harga CENT meningkat 1.010,09%. Selama Desember 2012 Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan dua kali penghentian sementara (suspen) perdagangan saham CENT.

Akan tetapi selama tiga hari perdagangan pada Januari 2013 ini harga saham CENT turun drastis. Per 4 Januari CENT ditutup pada Rp810 per saham, anjlok 33,06% dari harga penutupan Rp1.210 per saham pada 2012. Ini menempatkan CENT sebagai emiten dengan penurunan harga saham terbesar minggu lalu. Pada waktu yuang sama Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) BEI mencetak rekor tertinggi baru, 4.410,020 poin, naik 2,16% dari 4.316,687 poin per 27 Desember 2012.

Penurunan harga CENT berlanjut pada perdagangan Senin, 7 Januari 2013. Hingga pukul 10:34 WIB, harga CENT tercatat Rp680 per saham, turun 16,05% dari harga penutupan Jumat (4/1) sebesar Rp810 per saham.

Peningkatan harga CENT periode November-Desember 2012 memang tak didukung oleh kinerja fundamental yang memadai. PerSeptember 2012, dengan aset Rp113,9 miliar, CENT membukukan pendapatan usaha Rp41,03 miliar, merosot sekitar 10% dari Rp45,71 miliar per September 2011.

Kontras dengan pendapatan, biaya usaha CENT, terutama beban umum dan administrasi, justru meningkat. Akibatnya, jika per September 2011 Centrin masih membukukan laba usaha Rp1,74 miliar, per September 2012 rugi usaha Rp4,53 miliar.

September 2011 sebenarnya Centrin sudah menderita kerugian bersih Rp735,15 juta. Akan tetapi sebagian besar kerugian itu karena ada kegiatan usaha yang dihentikan sebesar Rp1,99 miliar. Centrin masih membukukan laba sebelum pajak Rp1,17 miliar. Tahun ini, seperti tergambar di laporan keuangan per September 2012, Centrin menderita rugi bersih Rp2,29 miliar, meningkat kurang lebih 200% dari tahun sebelumnya. (ba)

Kamis, 20 Desember 2012

Centrin Online Ditransaksikan Lagi, Harga Sahamnya Melonjak!



Kamis (20/12) ini, sesuai janji Bursa Efek Indonesia (BEI), saham emiten penyedia layanan internet PT Centrin Online Tbk (CENT) kembali diperdagangkan. Sejak Jumat, 7 Desember 2012, CENT disuspen oleh BEI, setelah harga sahamnya melonjak 383,87%, dari Rp155 pada 21 November 2012 menjadi Rp750 per saham pada 6 Desember 2012.

Tanda-tanda harga sengaja dikerek setinggi-tingginya, seperti saya kemukakan sebelumnya, makin jelas setelah CENT kembali diperdagangkan Kamis (20/12) ini. Begitu perdagangan saham di BEI dibuka, harga CENT langsung melonjak 20% menjadi Rp930 per saham. CENT akhirnya tercatat sebagai top gainer sesi pertama perdagangan hari ini. Permintaan atas saham CENT masih cukup tinggi, tetapi penawaran sudah berhenti setelah mencapai Rp930.

Tampaknya, jika saham CENT tak disuspen lagi maka dalam beberapa hari mendatang harganya dengan cepat akan mencapai Rp1.200 per saham. Walau masih mencetak rugi per September 2012, permintaan atas saham CENT masih cukup besar. Pada perdagangan sesi ke-2 Kamis ini, permintaan atas CENT masih cukup besar.**

Kamis, 06 Desember 2012

Centrin ‘Digoreng’ untuk Back Door Listing?


Harga saham PT Centrin Online Tbk (CENT) benar-benar berkibar. Rabu (5/12), setelah suspensinya dibuka oleh BEI, CENT ditutup naik 23,71% menjadi Rp600 dari Rp485 per saham pada saat disuspen. Kamis (6/12) harga CENT langsung “ngebut” begitu perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) dimulai. Pada pukul 09:32 JATS, atau dua menit setelah perdagangan berlangsung, harga CENT sudah mencapai Rp750 per saham, naik 25% dari penutupan sehari sebelumnya.

Kenaikan 25% itu berarti CENT telah menyentuh aturan auto rejection BEI untuk saham dengan harga Rp200-5.000. Perdagangannya dihentikan pada pukul 09.48 waktu JATS. Pada periode 21 November-6 Desember 2012 harga CENT, secara kumulatif, telah meningkat 383,8%, dari Rp155 menjadi Rp750 per saham.

Kenaikan harga CENT sebesar 383,8% jelas tak didukung oleh kinerja fundamental. Akan tetapi, di BEI, hal itu tak hanya terjadi pada CENT. Hal serupa, misalnya, terjadi pada PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) dan PT ICTSI Jasa Prima Tbk (KARW). Harga saham kedua emiten yang bidang usaha utamanya telah berubah itu masing-masing naik 1.066,6% dan 534,5% pada periode 30 Desember 2011 hingga 30 November 2012. KARW bahkan belum membukukan pendapatan sepeser pun hingga Juni 2012.

Per September 2012, dengan aset Rp113,9 miliar, CENT hanya membukukan pendapatan usaha Rp41,03 miliar, turun sekitar 10% dari Rp45,71 miliar per September 2011. Kontras dengan pendapatan, biaya usaha CENT, terutama beban umum dan administrasi, justru meningkat. Akibatnya, jika per September 2011 emiten yang masuk bursa pada 1 Nopember 2011 itu masih membukukan laba usaha Rp1,74 miliar, per September 2012 rugi usaha Rp4,53 miliar.

Tahun ini, seperti tergambar di laporan keuangan per September 2012, Centrin yang sahamnya dicatatkan dan mulai diperdagangkan di BEI pada 1 November 2001 menderita rugi bersih Rp2,29 miliar, meningkat kurang lebih 200% dari Rp735,15 juta pada periode yang sama 2011.

Jadi, mengapa harga CENT naik pesat? Tentu saja bukan karena faktor fundamental. Sumber e-Bursa.com mengemukakan, ada rumor beredar Centrin akan dijadikan sarana ‘backdoor listing’ untuk sebuah perusahaan pertambangan. “Makanya harga sahamnya dibikin bagus dulu supaya setelah backdoor listing, harga saham pertambangan yang mengambil-alih CENT sudah tinggi,” katanya.

Sumber itu lebih lanjut mengemukakan, setelah bidang usaha berubah, langkah selanjutnya adalah menyelenggarakan penawaran umum terbatas (PUT) saham untuk membiayai investasi dan operasional pertambangan tersebut. Harga PUT-nya pun dapat ditetapkan lebih tinggi.

Tentu saja rumor seperti di atas tak akan dikonfirmasi oleh manajemen CENT. Jika pun ditanya, seperti sering dilakukan oleh BEI, maka jawaban standar akan keluar: manajemen tidak memiliki penjelasan atas peningkatan harga tersebut dan seterusnya. Hal yang pasti, pada perdagangan saham CENT Kamis pagi, seperti pada perdagangan Rabu, pialang jual terbesar atas saham CENT adalah UOB Kay Hiam Securities sebesar 200 lot. Sementara pembeli terbesar saham CENT diwakili oleh Millenium Danatama Sekuritas, juga 200 lot. 

Rabu, 05 Desember 2012

Siapa 'Menggoreng' Saham Centrin Online?


Senin (3/12) harga saham PT Centrin Online Tbk (CENT) ditutup naik 24,36% menjadi Rp485 dari Rp390 pada 30 November 2012. Selasa (4/12), sesuai pakem, Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara (suspen) perdagangan saham emiten penyedia jasa layanan internet yang bermarkas di Bandung itu. Alasannya, pada periode 21 November sampai 3 Desember harga CENT, secara kumulatif, telah meningkat 212,9%, dari Rp155 menjadi Rp485 per saham.

Rabu (5/12) ini, BEI membuka suspen CENT. Ternyata, harga CENT kembali melambung tinggi. Ketika sesi pertama perdagangan hari ini ditutup, harga CENT sudah mencapai Rp600 per saham, meningkat 23,71% dari harga sebelum suspen, Rp485 per saham. Bahkan, menurut data antrian jual dan beli StockWatch, tak ada lagi antrian jual CENT tetapi antri beli beli masih 886 lot (443 ribu saham), 325 lot diantaranya dengan harga Rp600 per saham.

Mengapa harga CENT naik pesat? Secara fundamental sebenarnya tak cukup alasan untuk peningkatan harga sebesar di atas. Bahkan jika dibandingkan dengan harga saham per 30 Desember 2011 sebesar Rp109, harga CENT telah meningkat 450%. Per September 2012, dengan aset Rp113,9 miliar, CENT membukukan pendapatan usaha Rp41,03 miliar, merosot sekitar 10% dari Rp45,71 miliar per September 2011.

Kontras dengan pendapatan, biaya usaha CENT, terutama beban umum dan administrasi, justru meningkat. Akibatnya, jika per September 2011 Centrin masih membukukan laba usaha Rp1,74 miliar, per September 2012 rugi usaha Rp4,53 miliar.

September 2011 sebenarnya Centrin sudah menderita kerugian bersih Rp735,15 juta. Akan tetapi sebagian besar kerugian itu karena ada kegiatan usaha yang dihentikan sebesar Rp1,99 miliar. Centrin masih membukukan laba sebelum pajak Rp1,17 miliar. Tahun ini, seperti tergambar di laporan keuangan per September 2012, Centrin menderita rugi bersih Rp2,29 miliar, meningkat kurang lebih 200% dari tahun sebelumnya.

Perkembangan harga saham Centrin periode 30 Des 2011 hingga 5 Des  2012
Kembali ke pertanyaan sebelumnya, mengapa harga CENT naik pesat? Tentu saja hanya investor yang memborong saham CENT sejak sebelum disuspen yang dapat menjawab pertanyaan  tersebut. Mereka tentu punya alasan hingga  sudi membeli saham CENT dengan harga 2,9 kali lebih mahal dalam tempo sekitar seminggu. Hari ini, pembelian terbesar saham CENT dilakukan melalui perusahaan pialang saham Philip Securities Indonesia. Jumlahnya 127 lot. Sementara penjual terbesar dilakukan oleh UOB Kay Hiam Securities sebesar 200 lot. Total volume transaksi CENT hari ini 296 lot, sementara pada periode 21 November sehingga sesi pertama Rabu (5/3) sebesar 3.068 lot atau 1,534 juta saham. (ba)

Senin, 10 September 2012

Saham Terbaik Agustus 2012: Garda Tujuh Buana



 Jika ada pemilihan saham terbaik di Bursa Efek Indonesia (BEI) berdasarkan peningkatan harga saham, maka juaranya adalah PT Garda Tujuh Buana Tbk (GTBO). Pada periode 30 Desember 2011-31 Agustus 2012 harga saham emiten pertambangan batubara ini meningkat 943,10%, dari Rp580 menjadi Rp6.050 per saham.

Pertumbuhan harga saham emiten yang sahamnya dicatatkan dan mulai diperdagangkan di BEI pada 9 Juli 2009 ini jauh meninggalkan 457 emiten lain di BEI. Di peringkat ke-2, misalnya, PT J. Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) hanya mengalami peningkatan harga saham 700%. Sementara di peringkat ke-3, PT Surya Esa Perkasa Tbk (ESSA) yang masuk bursa pada 1 Februari 2012 tumbuh 297,54%.

Didirikan pada 2006, GTBO memiliki konsesi pertambangan batubara seluas 710 hektar di Kabupaten Bulungam, Kalimantan Timur. Cadangan batubara terbukti di kawasan tersebut mencapai 95,41 juta ton. Hingga Juni 2012 GTBO telah menambang 2,54 juta batubara di wilayah konsesi tersebut.

Emiten pertambangan yang 26,61% sahamnya dikuasai oleh PT Garda Minerals ini melakukan penawaran perdana 1,835 miliar saham Juli 2009. Dari penawaran umum perdana saham (PUPS) GTBO meraih tambahan modal sekitar Rp211 miliar. Kini, selain dimiliki oleh masyakarat investor sebesar 43,3%, Green River Pte. Ltd. Melalui Barclays Bank juga menguasai 30% saham GTBO.

Kinerja fundamental GTBO meningkat drastis pada 2012. Per Juni 2012 emiten beraset Rp1,45 triliun itu membukukan penjualan Rp1,148 triliun, meningkat 3.069,95% dari Rp36,215 miliar per Juni 2011. Menurut Narindar Kumar, Direktur GTBO, pada semester I 2012 GTBO meraih kontrak penjualan batubara US$75 juta (sekitar Rp711,15 miliar) dari agen pemasaran batubara di Timur Tengah. Selain itu, dari pasar ekspor lainnya GTBO meraih penjualan Rp436,90 miliar. Penjualan semester I 2012 GTBO sudah melampau penjualan tahun 2011 sebesar Rp319,70 miliar.

Dari penjualan sebesar di atas, per Juni 2012 GTBO membukukan laba Rp939,81 miliar (Rp375,92 per saham), tumbuh 7.294,25% jika dibandingkan dengan laba per Juni 2011 sebesar Rp12,71 miliar (Rp5,08 per saham).

Walau sudah meningkat 943,10%, harga saham GTBO tampaknya masih tetap akan naik pada hari-hari mendatang. Hingga sesi pertama perdagangan saham Senin (10/9) harga GTBO ditutup pada Rp6.600 per saham. Permintaan beli GTBO mencapai 699,5 ribu saham dengan harga antara Rp5.550-6.550 per saham, sementara penawaran jual hanya 246,5 ribu saham dengan harga antara Rp6.660-7.200 per saham.

Hanya saja, rasio harga saham terhadap nilai buku per saham GTBO yang mencapai 13 kali memang jauh di atas rata-rata BEI yang minggu lalu hanya sebesar 2,5 kali. Akan tetapi rasio harga saham terhadap labanya (disetahunkan) sekitar 8,7 kali, masih di bawah rata-rata BEI yang mencapai 13 kali. (baso amir)

Minggu, 12 Februari 2012

Saham Terbaik BEI per 10 Februari 2012


Harga saham sejumlah emiten yang secara fundamental terpuruk, paling tidak hingga September 2011, naik pesat pada minggu ke-2 Februari 2012.

Periode 3-10 Februari 2012 saham PT Zebra Nusantara Tbk (ZBRA) tercatat sebagai Emiten Terbaik di Bursa Efek Indonesia (BEI). Kembali diperdagangkan pada 8 Februari 2012setelah sekian lama disuspen, harga saham perusahaan taksi di Surabaya, Jawa Timur itu, ditutup naik jadi Rp103 per saham pada hari terakhir perdagangan minggu ke-2 bulan ini,  Jumat, 10 Februari 2012, meningkat 106% dari Rp 50 per saham pada 3 Februari 2012.

Kinerja fundamental ZBRA, hingga September 2011, sebenarnya masih buruk. Dengan pendapatan bersih Rp15,06 miliar (turun 14,5% dari September 2010 Rp17,617 miliar), ZBRA menderita rugi usaha Rp6,343 miliar, meningkat dari Rp4,606 miliar. Rugi bersih emiten beraset Rp56.727 miliar itu per September 2011 mencapai Rp9,215 miliar (Rp14,06 per saham).

Emiten terbaik ke-2 ditempati oleh PT Pembangunan Graha Lestari Indah Tbk (PGLI). Sempat dihentikan sementara perdagangannya, harga PGLI ditutup pada Rp197 per saham pada 10 Februari 2012, naik 93,14% dari sepekan sebelumnya dan meningkat 294% dari harga penutupan akhir tahun 2011 sebesar Rp50 per  saham.

Entah apa di balik pertumbuhan harga PGLI yang sangat fantastis itu. Per September 2011 emiten tersebut hanya membukukan pendapatan Rp10,276 miliar, turun 4% dari periode yang sama tahun sebelumnya. Walau turun, PGLI masih cetak laba bersih Rp72,797 juta (Rp0,14 per saham), anjlok 88% dari Rp615,271 juta (Rp1,26 per saham) pada September 2010. Dengan laba sebesar itu, maka rasio harga saham terhadap laba bersih atau price to earning ratio (PER) PGLI – luar biasa tinggi – 1407 kali.

PT Hotel Sahid Jaya International Tbk (SHID) berada di peringkat ke-3. Jumat, 10 Februari 2012, harga SHID ditutup pada Rp 495 per saham, naik 30,26% dari harga penutupan 3 Februrai 2012 Rp 380 per saham dan 22,22% dari harga penutupan akhir tahun 2011 sebesar Rp405 per saham.

Kinerja fundamental SHID tak lebih bagus dibandingkan ZBRA dan PGLI. Emiten pengelola sejumlah hotel itu menderita rugi usaha Rp6,341 miliar per September 2011 dari laba usaha Rp2,350 miliar per September 2010. Peningkatan pendapatan usaha 16,7% perusahaan tersebut dari Rp84,513 miliar menjadi Rp98,701 miliar tak dapat menutup beban usaha yang meningkat lebih pesat, 35,8%.

SHID memang masih cetak laba bersih Rp3,978 miliar (Rp3,46 per saham) dari Rp13,431 miliar (Rp11,91 per saham), tapi seluruh dari kegiatan non operasional.

Peringkat emiten terbaik ke-4 minggu lalu ditempati PT Asuransi Bintang Tbk (ASBI). Harga sahamnya naik 28,33% jadi Rp385 dari sebelumnya Rp300 per saham. Dari harga penutupan akhir tahun 2011 sebesar Rp275 per saham, harga ASBI telah meningkat 40%.

Pendapatan premi bersih  ASBI mencapai Rp65,162 miliar per September 2011, tumbuh 35,8% dari Rp47,983 miliar per September 2010. ASBI meraih laba bersih Rp3,777 miliar dari rugi Rp7,623 miliar pada tahun sebelumnya.

Adapun peringkat ke-5 ditempati oleh PT Humpuss Intermoda Transportasi Tbk. (HITS). Harga saham anak usaha Grup Humpuss di bidang transportasi (tanker) itu naik 24,22% jadi Rp280 dari sebelumnya Rp225 per saham. Akan tetapi sepanjang 2012 harga HITS masih lebih rendah 5,08% dari harga penutupan per 30 Desember 2011 sebesar Rp295 per saham.

Kinerja fundamental HITS lebih parah. Seperti tahun sebelumnya, dengan penjualan bersih Rp376,402 miliar (naik 1,35% dari tahun sebelumnya), HITS menanggung rugi kotor Rp7,136 miliar. Kerugian bersihnya melambung menjadi Rp112,360 miliar per September 2011 dari Rp47,610 miliar per September 2010. (baso amir)

Selasa, 09 Agustus 2011

Dalam Seminggu, Kapitalisasi Astra Turun Rp28,136 Triliun


Hanya dalam tujuh hari bursa nilai kapitalisasi pasar PT Astra International Tbk turun Rp28.136 triliun menjadi Rp257,273 triliun dari Rp285,409 triliun per 29 Juli 2011. Pada sesi pertama perdagangan saham di BEI, Selasa (9/8), harga saham Astra International (ASII) ditutup pada Rp63.550, turun 6,98% dari harga penutupan 29 Juli 2011 sebesar Rp70.500 per saham.

Bahkan jika dibandingkan dengan kapitalisasi pasar tertinggi pada 27 Juli 2011 sebesar Rp303,627 triliun, maka nilai Astra telah merosot Rp46,354 triliun. Pada hari itu harga ASII ditutup pada Rp70.500 per saham.

Penurunan nilai kapitalisasi pasar Astra seiring kemerosotan harga-saham di BEI seminggu terakhir ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) BEI yang sempat meningkat mencapai rekor tertinggi baru sebesar 4.193,441 poin pada 1 Agustus 2011, pada sesi pertama Selasa (9/8) ditutup pada 3.747,477 poin, turun 10,63%. Ini diperkirakan akan berlanjut. Dari 312 emiten yang sahamnya diperdagangkan hari ini, harga saham 257 emiten ditutup turun, sementara 29 dan 26 emiten masing-masing tetap dan naik.

Akibat penurunan tersebut, nilai total kapitalisasi pasar emiten BEI turun Rp244,422 triliun, dari Rp3.722,858 triliun per 29 Juli 2011 menjadi Rp3.478,436 triliun per 8 Agustus 2011.

Kendati merosot, Astra masih menempati peringkat pertama emiten dengan kapitaliasi pasar terbesar di BEI. PT Bank Central Asia (BBCA) Tbk berada di peringkat ke-2 dengan nilai kapitalisasi Rp196.488 triliun. Jika per 29 Juli 2011 terdapat delapan emiten dengan kapitalisasi di atas Rp100 triliun, per 8 Agustus 2011 tinggal tujuh (7) emiten. PT United Tractors Tbk dengan Rp101,832 triliun merosot ke posisi ke-9 dengan Rp89,337 triliun. Posisinya digantikan oleh Gudang Garam dengan kapitalisasi pasar Rp96,204 triliun. (ba)

Rabu, 08 Juni 2011

Kapitalisasi Pasar BEI Menguap Rp12,561 Triliun


Seiring penurunan IHSG BEI sebesar 0,45% atau 17,132 poin menjadi 3.825,281 poin pada Rabu (8/6), nilai kapitalisasi seluruh emiten juga merosot 0,37%. Tetapi nilai nominal dari 0,37% tersebut adalah Rp12,561 triliun, dari Rp3.439,69 triliun menjadi Rp3.427,13 triliun.

Lima emiten yang nilai kapitalisasi pasarnya secara nominal meningkat paling tinggi pada Rabu (8/6) adalah HM Sampoerna (HMSP), Bayan Resources (BYAN), Harum Energy (HRUM), Bank Danamon (BDMN) dan Bumi Resources Miunerals (BRMS), masing-masing Rp1,315 triliun, Rp1 triliun, Rp945 miliar, Rp833,6 miliar dan Rp767,1 miliar.

Adapun lima emiten yang nilai kapitalisasi pasarnya secara nominal turun paling tinggi Rabu ini adalah Bank Central Asia (BBCA), Indocement Tunggal Prakasa (INTP), Bumi Resources (BUMI), Bank Negara Indonesia (BBNI) dan Indofood Sukses Makmur (INDF), masing-masing Rp2,441 triliun, Rp2,025 triliun, Rp1,558 triliun, Rp1,385 triliun dan Rp1,317 triliun.

Kendati nilai kapitalisasi turun paling tinggi Rabu ini, BBCA masih di peringkat ke-2 emiten dengan kapitalisasi terbesar di BEI, yaitu Rp170,859 triliun. Astra International (ASII) masih kokoh di peringkat pertama dengan kapitalisasi pasar Rp240,877 triliun. Di urutan ke-3, ke-4 dan ke-5 masing-masing Bank Mandiri (BMRI), Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dan PT Telekomunikasi Indonesia (TLKM) masing-masing sebesar Rp161,699 triliun, Rp156,304 triliun dan Rp151,199 triliun. (ba)

Kamis, 12 Mei 2011

Garuda Masih Didera Kerugian, Sahamnya Turun 28%

Saham PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk pada 10 Mei 2010 ditutup pada Rp540 per saham. Itu berarti turun 28% dari harga perdana Rp750 per saham.

Emiten 2011 BEI yang harga sahamnya ditutup di bawah harga perdana bukan hanya Garuda. Hal serupa menimpa PT Megapolitan Developments Tbk sebesar 38%, dari Rp250 menjadi Rp155 per saham dan PT Martina Berto Tbk turun 21,61% menjadi Rp580 dari harga penawaran perdana Rp740 per saham.

Penurunan harga saham Garuda tak terlepas dari kinerjanya. Pada 2010, BUMN penerbangan yang sahamnya dicatatkan dan mulai diperdagangkan di BEI pada 11 Februari 2011 itu membukukan rugi usaha Rp67,16 miliar dari laba usaha Rp918,29 miliar pada 2009. Kendati demikian per Desember 2010 Garuda masih membukukan laba bersih Rp515,52 miliar, anjlok 49,68% dari Rp1,017 triliun per Desember 2009.

Akan tetapi harus diingat, seluruh laba bersih Garuda – mencapai Rp515,52 miliar pada 2010 atau Rp28 per saham – berasal dari kegiatan non-operasional seperti pendapatan lain-lain sebesar Rp126,118 miliar, bagian laba bersih perusahaan asosiasi, manfaat pajak dan laba dari pos luar biasa, dalam hal ini keuntungan dari restrukturisasi utang. Laba tersebut anjlok 49,48% dari tahun 2009 yang mencapai Rp1,019 triliun.

Pada 2010 Garuda membukukan pendapatan usaha Rp19,534 triliun, tumbuh 9,38% dari Rp17,860 triliun pada 2009. Akan tetapi beban usaha Garuda naik lebih pesat, yaitu 15,69%, dari Rp16,942 triliun menjadi Rp19,601 triliun.

Bagaimana 2011?

Kondisi kinerja keuangan Garuda pada 2010 seperti digambarkan di atas, diperkirakan masih akan terulang pada 2011. Tanda-tandanya sudah terlihat pada triwulan I 2011. Pendapatan usaha Garuda tumbuh 49,6% menjadi Rp5,189 triliun dari Rp3,467 triliun per Maret 2010.

Akan tetapi beban usaha Garuda juga naik 42,28% dari Rp3,829 triliun menjadi Rp5,448 triliun. Akibatnya, Garuda kembali membukukan kerugian usaha Rp258,73 miliar per Maret 2011. Ini sudah lebih rendah dari kerugian usaha per Maret 2010 yang mencapai Rp361,26 miliar.

Hanya saja, pada triwulan I 2010 Garuda masih memiliki sejumlah pendapatan non operasional untuk menutup kerugian tersebut. Itu sebabnya Garuda masih memperoleh laba bersih Rp18,021 miliar atau Rp0,92 per saham.

Akan tetapi pada triwulan I 2011, Garuda tidak lagi menikmati berbagai pendapatan non operasional tersebut. Akibatnya Garuda rugi Rp183,56 miliar atau minus Rp8,10 per saham. Jika tak mampu menaikkan pendapatan dan menekan beban usaha, kerugian Garuda bisa mencapai Rp700 miliar pada 2011. Ini tentu saja berita buruk bagi BUMN yang sedang berjuang keras meraih laba untuk menutup akumulasi kerugian yang masih mencapai Rp6,8 triliun pada Desember 2010 itu. (ba)

Senin, 29 November 2010

Laba Bakrie Telecom Tumbuh 52%, Sahamnya Layak Koleksi?

PT Bakrie Telecom Tbk. (BTEL) mencetak laba bersih Rp 148,597 miliar (Rp5,22 per saham) per September 2010. Ini meningkat 52,67% jika dibandingkan laba per September 2009 sebesar Rp 97,330 miliar (Rp3,42 miliar). Dengan pertumbuhan laba sebesar itu, apakah saham BTEL layak dibeli?

Per Jumat, 26 November, harga Bakrie Telecom ditutup pada Rp 245 per saham. Ini berarti pada periode 30 Desember 2009-26 November 2010 harga BTEL telah tumbuh 66,67%. Pada harga itu, rasio harga saham terhadap laba bersih per saham atau PER (Price to Earning Ratio) BTEL telah mencapai 35,5 kali, jauh di atas rata-rata PER di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang masih 17,16 kali.

Iklan gencar plus inovasi produk dan layanan tampaknya belum mampu mendongkrak pendapatan BTEL secara signifikan. Per September 2010 BTEL membukukan pendapatan Rp 2,048 triliun, hanya tumbuh 1,7% dari pendapatan per September 2009 sebesar Rp 2,013 triliun. Ini jauh di bawah pertumbuhan pendapatan operator lain yang mencapai 31%.

Per September 2010 beban usaha Bakrie Telecom mencapai Rp1,857 triliun, naik 3,3% dari Rp1,798 triliun per September 2009. Akibatnya, laba usaha operator telepon seluler di bawah Grup Bakrie beraset Rp 12,311 triliun itu turun 11,5% menjadi Rp190,715 miliar dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp215,601 miliar.

Kinerja operasional BTEL pada periode sembilan bulan pertama 2009 sebenarnya lebih bagus dibandingkan periode yang sama 2010. Ini tergambar dari marjin laba usaha per September 2009 yang mencapai 10,7%, sementara per September 2010 turun menjadi 9,31%.

Seperti halnya laba bersih, laba sebelum pajak BTEL juga meningkat pesat, yaitu 51,2%, dari Rp 131,844 miliar menjadi Rp 199,366 miliar. Pertumbuhan tersebut dari penghasilan lain-lain, terutama dari selisih kurs dan penghasilan lain-lain. Per September 2009 BTEL menanggung beban lain-lain bersih Rp 83,758 milir, sementara per September 2010 meraih penghasilan lain-lain bersih Rp 8,651 miliar.

Kendati beban keuangan – antara lain beban bunga kredit bank dan obligasi – naik hamper 100%, manajemen BTEL dapat menutup kenaikan tersebut dari laba selisih kurs yang mencapai Rp 132,334 miliar per September 2010, meningkat 57% dari tahun sebelumnya. Selain itu beban tersebut juga ditutup dengan penghasilan lain-lain bersih yang mencapai Rp 176,869 miliar dari minus Rp 15,159 miliar tahun sebelumnya. Sumbernya, menurut catatan laporan keuangan BTEL, pengembalian kelebihan bayar biaya lisensi frekuensi radio ke BHP Frekuensi Perusahaan pada periode 2006-2010 yang mencapai Rp 200,916 miliar. (baso amir)

Jumat, 12 September 2008

Kapitalisasi BEI Menguap Rp495 Triliun


Pada periode 2 Januari-11 September 2008, seiring penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), nilai kapitalisasi pasar emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) menguap Rp495 triliun. Jika dirata-ratakan, hingga Kamis (11/9), nilai kapitalisasi BEI berkurang Rp2,913 triliun per hari perdagangan. Nilai kapitaliasi pasar per 2 Januari 2008 mencapai Rp1.990,621 triliun, sementara Kamis (11/9) tinggal Rp1.495,306 triliun, turun 24,88%. Pada periode yang sama IHSG turun 31,53% menjadi 1.870,133 poin, terendah sepanjang tahun ini.

Jika kapitalisasi pasar emiten yang masuk BEI pada 2008 dikeluarkan dari perhitungan, penurunan kapitalisasi pasar BEI mencapai Rp582,224 triliun, sekitar 29% dari kapitalisasi per 2 Januari 2008. Hingga kemarin, nilai kapitalisi 17 emiten yang sahamnya mulai dicatatkan dan diperdagangkan di BEI pada 2008 mencapai Rp86,91 triliun. PT Adaro Energy Tbk menempati peringkat teratas dengan nilai kapitalisasi pasar mencapai Rp45,1 triliun.

Pada periode tersebut emiten yang mengalami penurunan nilai kapitalisasi terbesar adalah PT Polysindo Eka Perkasa Tbk, yaitu 94%, dari Rp2,377 triliun menjadi Rp142,61 miliar.

Kapitalisasi pasar beberapa emiten meningkat ketika nilai kapitalisasi pasar secara umum turun. Emiten dengan peningkatan kapitalasasi pasar terbesar ditempati oleh PT Citra Kebun Raya Agri Tbk. Nilai kapitalisasi pasar perusahaan pengembang perumahan dan kontraktor ini per 11 September 2008 mencapai Rp1,113 triliun, melonjak 2.373,2% dari kapitaliasi per 2 Januari 2008 sebesar Rp44,982 miliar.

Peningkatan di atas tidak disebabkan oleh pertumbuhan harga saham Citra Kebun Raya, melainkan oleh penambahan saham setor. Dua kali penawaran saham terbatas pada 2008 meningkatkan saham setor perusahaan tersebut menjadi 5,057 miliar unit dari 176,4 juta unit pada akhir 2007. Per 11 September 2008 harga CKRA ditutup pada Rp220 per unit, turun sekitar 13% dari harga awal tahun.

Secara operasional, pada semester I 2008 CKRA membukukan penjualan Rp13,466 miliar, naik 407% dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp2,653 miliar. Akan tetapi beban usaha yang meningkat 388%, dari Rp1,180 miliar menjadi Rp5,764 miliar, menyebabkan perusahaan tersebut menderita rugi usaha Rp3,339 miliar. Per Juni 2008 CKRA merugi Rp659,52 juta dari keuntungan Rp3,269 juta per Juni 2007. (ba)

Rabu, 23 April 2008

Tempat Terbaik Berbisnis: Denmark


Economist Intelligence Unit (EIU), lembaga riset milik The Economist, Inggris menobatkan Denmark sebagai tempat terbaik untuk berbisnis di dunia ini dalam lima tahun ke depan. Dari 82 negara yang disurvei oleh EIU, Denmark menempati peringkat teratas. Negara berpenduduk sekitar 5,5 juta jiwa itu disusul oleh Finlandia dan Singapura masing-masing di posisi ke-2 dan ke3.

Lalu di mana Indonesia? Sayang sekali laporan pada 22 April 2208 di situs Economist itu tidak memasukkan Indonesia dalam tabel. Yang pasti, berada di peringkat ke-81 adalah Venezuela, negara yang kini sedang gencar mempraktekkan sistem ekonomi sosialis. Mudah-mudahan Indonesia tidak di bawah negara tersebut! (Baso Amir)

Selasa, 20 November 2007

Prajogo Telah Kembali?

Setelah sekian lama tidak menjadi berita utama di halaman bisnis media massa, Prajogo Pangestu, Komisaris Utama sekaligus pendiri PT Barito Pacific Timber Tbk tampaknya sedang mempersiapkan diri untuk kembali masuk radar media. Pada Jumat (16/11), para pemegang saham Barito Pacific Timber menyetujui rencana penerbitan 4,362 miliar saham baru kepada para pemegang saham lama perusahaan (right issue) tersebut. Saham tersebut akan ditawarkan Rp2.100 per unit. Itu berarti Barito akan mendapatkan tambahan modal Rp9,16 triliun.

Jika langkah di atas berjalan mulus maka aset Barito akan meningkat menjadi Rp10,836 triliun. Total aset Barito per September 2007 adalah Rp1,676 triliun. Jumlah saham setor Barito akan naik menjadi 7.131.425.752 miliar. Dengan harga saham, menurut StockWatch, Rp4.250 per unit pada sesi kedua perdagangan Senin (18/11), maka nilai kapitalisasi pasar Barito akan melambung menjadi Rp28,525 triliun, dari Rp11,1 triliun sekarang ini.

Dengan kapitalisasi sebesar di atas, posisi Barito akan melambung dari peringkat ke-38 menjadi peringkat 19 di BEJ, menggeser posisi Indofood Sukes Makmur. Jadi, dalam sekali gebrak, Barito langsung naik peringkat. Dan, seperti dikemukakan oleh Prajogo, dalam waktu dekat Barito kembali akan menggelar aksi korporasi serupa. Untuk itu, modal dasar Barito akan dinaikkan dari Rp10 triliun menjadi Rp27,9 triliun. Para pemegang saham juga sudah menyetujuinya.

Masalahnya, apakah pemegang saham Barito mau merogoh kocek lebih dalam lagi? Bisnis kayu lapis yang dulu membuat Barito berjaya (antara lain sebagai pemegang HPH -- Hak Pengusahaan Hutan -- terluas di dunia) kini mulai memudar. Beberapa pabrik kayu lapis Barito kesulitan bahan baku sehingga terpaksa berhenti berproduksi. Kinerjanya juga anjlok. Penjulan Barito merosot dari Rp1,278 triliun pada 2004 menjadi Rp451 miliar pada 2006. Secara operasional perusahaan ini merugi pada 2005 dan 2006. Pada 2004, Barito merugi Rp154,87 miliar, lalu mencetak keuntungan Rp686,84 miliar pada 2005. Akan tetapi itu dari penjualan aset bukan dari hasil operasi. Pada 2006 laba Barito hanya Rp7,19 miliar.

Kinerja Barito “agak” membaik pada 2007. Dari penjualan sebesar Rp289,017 miliar per September 2007, Barito membukukan laba bersih Rp38,048 miliar. Harga sahamnya jua naik pesat (620%), dari Rp590 (2 Januari) menjadi Rp4.250 per unit pada Senin (18/11) sore, bahkan sempat mencapai harga tertinggi Rp4.775 per saham.

Seperti dikemukakan oleh Prajogo, Barito tidak akan menggunakan tambahan modal itu untuk pengembangan industri kayu, melainkan untuk mengakuisisi PT Chandra Asri, perusahaan petromikia, yang dulu pada era Soeharto didirikan oleh Prajogo bersama sejumlah pengusaha. Kita tidak tahu bagaimana kondisi Chandra Asri sekarang, tetapi beberapa tahun yang lalu sempat tertatih-tatih meminta proteksi dari pemerintah. Prajogo tampaknya berharap mengembalikan kejayaan Barito (dan dirinya?) melalui Chandra Asri? Dapatkah! (Baso Amir)

Kamis, 08 November 2007

Reksadana Terbaik per Oktober 2007: Makinta Mantap


Kinerja reksadana saham Makinta Mantap benar-benar mantap. Selama setahun – periode 30 Oktober 2006 - 31Oktober 2007, NAB (Nilai Aktiva Bersih) Makinta Mantap tumbuh 139,96%, dari Rp1.825,43 menjadi Rp4.355,12 per unit.

Makinta Mantap meninggalkan jauh para pesaingnya di kelompok reksa dana saham. NAB Fortis Ekuitas yang berada di peringkat ke-2 hanya tumbuh 96,33% pada periode tersebut. Pertumbuhan NAB reksadana saham peringkat ke-3 hingga ke-10 masing-masing Pratama Saham (86,19%), Dana Ekuitas Prima (79,95%), Mandiri Investa Atraktif (76,60%), Schroder Dana Istimewa (74,96%), Trim Kapital (73,63%), Bahana Dana Prima (73,31%), Manulife Dana Saham (71,43%) dan Schroder Dana Prestasi Plus di peringkat ke-10 dengan pertumbuhan NAB 69,82%.

Pada periode di atas IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) BEJ naik 67,29%, dari 1.580,189 menjadi 2.643,487 poin. Mengacu pada kenaikan IHSG, maka terdapat 14 reksa dana saham yang kenaikan NAB-nya melampaui pertumbuhan IHSG BEJ.

Makinta Mantap diterbitkan dan dikelola PT Makinta Securities. Pada 30 Oktober 2006, total subscription Makinta Mantap mencapai 31.683.168,32. Pada hari itu total unit reksa dana saham Makinta Mantap yang telah diterbitkan mencapai 8.274.115,66 dengan nilai aktiva bersih (NAB) Rp8,275 miliar atau Rp1.825,43 per unit.

Setahun kemudian pada 31 Oktober 2007, total subscription Makinta Mantap menjadi 593.110.887,27, meningkat 1.772,01%. Total NAB reksa dana tersebut mencapai Rp179,956 miliar untuk total 41.320.579,64 unit atau Rp4.355,12 per unit. Itu berarti dalam dua belas bulan dana kelolaan Makinta Mantap meningkat hampir 20 kali lipat.

Menurut data Bapepam-LK, per 30 Oktober 2006, sepuluh besar saham yang mengisi portofolio investasi Makinta Mantap adalah PT Ricky Putra Globalindo Tbk (RICY), PT Sumalindo Lestari Jaya Tbk (SULI), PT Bank Bumi Artha Tbk, PT Radiant Utama Interisco Tbk, PT Suryainti Permata Tbk, PT Ciputra Surya, PT Indosat Tbk, PT Summarecon Agung Tbk, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), dan PT Tunas Ridean Tbk (TURI).

Per 31 Oktober 2007 sepuluh besar saham pengisi portofolio investasi Makinta Mantap masih didominasi sektior properti. Ricky, Telkom dan Summarecon tetap “dipegang” setelah setahun kemudian. Akan tetapi kini, posisi teratas ditempati oleh PT Bakrieland Development Tbk (ELTY), lalu didusul oleh saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), Telkom, Ricky, PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk, Summarecon dan PT Modernland Realty Tbk. (Baso Amir)

Jumat, 02 November 2007

Sektor Media: MNCN Mencorong, Indosiar Terpuruk


Inilah bintang baru sektor media di BEJ: PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN). Dicatatkan dan mulai diperdagangkan di BEJ pada 24 April 2007, harga saham MNCN memang tidak meroket seperti halnya IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) BEJ yang berdasarkan harga penutupan sesi pertama Jumat (2/11) telah meningkat 46,46% dari IHSG per 2 Januari 2007.

Pada periode 24 April 2007 hingga penutupan pada sesi pertama perdagangan Jumat (2/11), gain MNCN hanya 6,6%, yaitu dari harga perdana Rp900 menjadi Rp960 per saham. Harga tertinggi MNCN pada periode tersebut adalah Rp1.060 per saham pada 26 Juli 2007.

Dibandingkan emiten lain di sektor media, perolehan gain MNCN memang bukan yang terbaik. Pada periode yang sama, harga saham PT Tempo Inti Media Tbk (TMPO) – Majalah dan Koran Tempo -- naik 71,9%, dari Rp70 menjadi Rp120 per saham. Lalu, saham PT Indosiar Karya Media Tbk (IDKM) – induk PT Indosiar Visual Mandiri – tumbuh 27,3%, dari Rp385 menjadi Rp490 per saham. Saham PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) – induk SCTV – hanya tumbuh 4,12%, sementara saham PT Abdi Bangsa Tbk (ABBA) turun 6,5% pada periode tersebut.

Akan tetapi, dari segi kinerja keuangan hingga September 2007 MNCN menyalip semua emiten di sektor media. Per September 2007, perusahaan yang 70% sahamnya dikuasai oleh PT Global Mediacom Tbk (BMTR) itu membukukan pendapatan Rp2,209 triliun, naik 51,38% dari pendapatan pada periode yang sama 2006, yaitu Rp1,029 triliun.

Dibandingkan dengan emiten media lainnya, sumber pendapatan MNCN memang lebih beragam. Selain mengelola tiga stasiun TV (RCTI, TPI dan Global TV), perusahaan ini memiliki jaringan radio (Trijaya, Woman Radio dan Radio Dangdut), media cetak (Seputar Indonesia dan sejumlah koran edisi daerah di Jawa Barat, Jawa Tengah dan DIY, Jawa Timur, Sumatera Utara, Sumatera Selatan dan Sulawesi Selatan) serta media online (Okezone.com).

Akan tetapi tulang punggung pendapatan MNCN masih media TV. Seperti dikemukakan oleh Direksi MNCN dalam laporan keuangan per September 2007 yang dikirimkan ke BEJ, Rp2,092 triliun dari Rp2,209 triliun pendapatan MNCN berasal dari televisi. Ini meningkat 51,6% dari periode yang sama tahun sebelumnya. Penyumbang kedua adalah media cetak sebesar Rp104,51 miliar, naik 47% dari tahun lalu. Adapun radio menyumbangkan mendapatan Rp12,994 miliar, hanya 0,59% dari total pendapatan MNCN.

Dari pendapatan Rp2,092 triliun itu, MNCN membukukan laba bersih Rp326,35 miliar, naik 51,01% dari laba bersih per September 2006 sebesar Rp216,12 miliar. Akan tetapi laba bersih per saham MNCN turun 18,37%, dari Rp29,07 pada September 2006 menjadi Rp23,73 per saham. Penyebabnya, jumlah saham meningkat menjadi 13,75 miliar dari sebelumnya 7,436 miliar. Hal serupa terjadi pada rasio kembalian atas ekuitas (ROE atau return on equity), anjlok dari 20,99% menjadi 8,6%.

Dengan kinerja seperti di atas, masih adakah ruang peningkatan harga saham MNCN? Rasio harga saham terhadap laba bersih per saham (PER atau price to earning ratio) MNCN sekitar 30 kali. Ini jauh di atas PER Tempo (TMPO) sebesar 12,9 kali dan Surya Citra Media (SCMA) 11,9 kali.

Akan tetapi kinerja fundamental MNCN di atas TMPO dan SCMA. Per September 2007, pendapatan TMPO turun 5,78% menjadi Rp111,754 miliar dari sebelumnya Rp118,61 miliar. Kendati begitu, pada triwulan ke-3 tahun ini, TMPO sudah membukukan laba bersih Rp2,18 miliar. Periode sama tahun sebelumnya, perusahaan media tertua dari semua emiten media di BEJ itu masih merugi Rp7,254 miliar.

Hal serupa dialami oleh Indosiar Karya Media (IDKM) dan anak perusahaannya. Pendapatannya, per September 2007 hanya Rp444,113 miliar, turun 3,53% dari tahun sebelumnya Rp460,361 miliar. Secara operasional pemilik stasiun TV Indosiar ini masih merugi Rp52,943 miliar, turun sekitar 65% dari rugi operasi tahun sebelumnya sebesar Rp165,654 miliar. Akan tetapi rugi bersih IDKM per September 2007 hanya turun 1,21% menjadi Rp180,986 miliar dari sebelumnya Rp183,198 miliar.

Selain MNCN, hanya Surya Cipta Media (SCMA) yang pendapatan dan labanya masih meningkat per September 2007. Dari pendapatan Rp947,096 miliar – naik 3,39% dari tahun sebelumnya – SCMA membukukan laba bersih Rp120,105 miliar. Ini meningkat 155,67% jika dibandingkan laba bersih per September 2006 sebesar Rp46,977 miliar.

Secara operasional, SCMA cenderung makin efisien. Beban usahanya turun 9,68% di tengah pendapatan yang hanya meningkat 3,39%. Itu sebabnya, marjin laba operasi perusahaan beraset Rp2,531 triliun itu meningkat dari 17,21% menjadi 27,68%. Marjin laba bersih SCMA naik lebih pesat, dari 5,13% menjadi 12,68%. Akan tetapi harga sahamnya hanya naik 25%, masih lebih rendah dari pertumbuhan pasar seperti tergambar dari kenaikan IHSG BEJ sebesar 46,46% pada periode 2 Januari-2 Nopember 2007. Jadi, masih ada peluang untuk naik. (Baso Amir)

Jumat, 31 Agustus 2007

Anomali BEJ: PT ATPK Resources Tbk

Semula perusahaan ini bernama PT Anugrah Tambak Perkasindo (ATPK) Tbk dengan bisnis utama pembenihan udang. Saham perusahaan yang markasnya dipindahkan dari di Jln, Bangka, Medan ke Jakarta pada Juni 2007 itu dicatatkan di BEJ pada 4 April 2002 dengan harga penawaran perdana Rp300 per saham.

Sejak diperdagangkan di BEJ harga ATPK terus merosot hingga ditutup Rp51 per unit pada 28 Desember 2002. Pada ulang tahun pertama pecatatan saham ATPK di BEJ, 4 April 2003, harganya tinggal Rp42, sudah merosot 86% dari harga perdana. Akan tetapi pada 28 Desember 2006 ATPK ditutup naik menjadi Rp51 per saham.

Tampaknya, penurunan harga saham ini sejalan dengan kinerja fundamental ATPK. Pada 2002, dengan penjualan Rp33,32 miliar, ATPK membukukan laba bersih Rp1,68 miliar atau Rp4 per saham. Itulah tahun terakhir ATPK membukukan laba. Tahun-tahun berikutnya, 2003-2006, ATPK merugi hingga mencapai Rp30,22 miliar pada 2006. Tahun itu penjualan ATPK hanya Rp1,53 miliar. Wajar jika harga saham ATPK juga merosot.

Akan tetapi sejak Februari 2007 saham ATPK menggeliat. Harganya naik drastis dan ditutup pada Rp228 per unit 19 Februari 2007. Itu berarti meningkat 374% dalam tempo sekitar 45 hari. Puncaknya terjadi 15 Juni 2007, harga ATPK mencapai Rp1.575 per saham, naik 2.988,23% dari harga 2 Januari 2007 sebesar Rp51 per saham.

Kenaikan harga 2.988,23% itu tentu saja fenomenal. Pada periode yang sama Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) BEJ hanya naik 15,4%. Selain itu, kinerja fundamental ATPK, seperti terlihat pada laporan keuangan per Juni 2007, belum juga pulih. Dengan penjualan hanya Rp315,87 juta, ATPK membukukan rugi usaha Rp16,01 miliar. Bahkan pendapatan tersebut belum dapat menutup beban pokok penjualan sebesar Rp2,29 miliar. ATPK masih menderita rugi kotor Rp1,972 miliar. Pendapatan lain-lain ATPK bahkan lebih besar dari pendapatan operasional, yaitu Rp450 juta. Ini yang menyebabkan rugi bersih lebih kecil dari rugi usaha, yaitu Rp14,394 miliar (minus Rp35 per saham).

Lalu apa “di balik” kenaikan harga saham ATPK yang “gila-gilaan” sepanjang 2007 ini sehingga perdagangan sahamnya sempat disuspen oleh BEJ? Tampaknya ini berkaitan dengan restrukturisasi dan perubahan binis inti ATPK. Diawali dengan prubahan nama menjadi PT ATPK Resources, perusahaan ini mendirikan dan mengakuisisi 10 perusahaan pada 2006. Tiga dari 10 anak perusahaan tersebut dimiliki secara langsung oleh ATPK, sementara tujuh lainnya melalui anak perusahaanya, PT Modal Investasi Mineral.

Ke-10 anak perusahaan tersebut bergerak di bidang pembangkitan tenaga listrik, minyak dan gas bumi, pertambangan batubara, pertambangan nikel dan jasa eksplorasi. Enam dari 10 anak perusahaan tersebut bergerak di bidang pertambangan batubara. Areal penambangannya di Tarakan, Tuhup, Sangatta, dan Berau (Kalimantan Timur) serta Lampung.

Jadi, tampaknya, para investor berani membayar mahal saham ATPK karena mengantisipasi “peruntungan” anak-anak perusahaan di masa mendatang. Mereka tidak peduli ATPK masih merugi, paling tidak hingga Juni 2007. Di sini berlaku hukum “ada permintaan ada harga.” Tetapi benarkah ATPK layak dihargai Rp1.575 per saham? Itu memang harga tertinggi. Pada perdagangan Rabu (29/8), ATPK ditutup pada harga Rp900 per saham, tetapi itu masih 1.664,7% di atas harga awal tahun ini. Bagi kebanyakan orang, kenaikan harga setinggi itu mencengangkan. Tetapi itulah BEJ, penuh dengan anomali. ATPK hanya salah satu diantaranya.***